Chelsea keluar
sebagai pemenang dalam
bigmatch menghadapi
Liverpool. Di Anfield,
Minggu (27/4/2014) malam WIB, The Blues menundukkan
The Reds dengan skor 2-0, yang membuat perebutan
gelar Premier League makin sengit.
Bermain di depan pendukungnya sendiri, Liverpool
sebenarnya tampil lebih dominan. Steven Gerrard dkk.
menguasai ball possession dan menciptakan banyak
peluang, meski tak satupun yang bisa dikonversikan
menjadi gol.
Kondisi sebaliknya terjadi di kubu Chelsea. Harus tampil
denan banyak pemain pelapis karena ditunggu
pertandingan Liga Champions, anak didik Jose Mourinho
lebih banyak bertahan dan menunggu di wilayah
pertahanannya sendiri sambil mengandalkan serangan
balik.
Gol pertama dalam laga ini datang di periode injury time
babak pertama. Dari kesalahan Steven Gerrard yang
terpeleset di tengah lapangan, Demba Ba berhasil
mencuri bola dan menjebol gawang Simon Mignolet.
Sementara gol kedua datang di injury time babak kedua
atas nama Willian.
Hasil laga ini membuat persaingan menjadi juara Premier
League makin panas. Liverpool masih berdiri di puncak
klasemen dengan poin 80, diikuti Chelsea di posisi kedua
dengan nilai 78.
Kemenangan Chelsea atas Liverpool juga melebarkan
jalan Manchester City jadi juara. Jika bisa memenangi
seluruh pertandingan sisa yang dipunya, City akan punya
poin sama dengan Liverpool. Namun The Citizens punya
selisih gol yang lebih baik dibanding Liverpool saat ini.
Tampilkan postingan dengan label Liverpool Kalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liverpool Kalah. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 April 2014
Liverpool kalah
Senin, 18 Maret 2013
Liverpool Diminta Cepat Bangkit
Mohammad Resha Pratama - detikSport
Minggu, 17/03/2013 03:24 WIB
FOTO:Getty Images via Liverpool FC/Andrew Powell
Rangkaian hasil positif Liverpool di empat laga sebelumnya yang selalu dimenangi mereka akhirnya terhenti di pekan ke-30 Liga Inggris, Sabtu (16/3/2013) malam WIB saat kalah 1-3 dari Southampton. Sepanjang laga Liverpool ditekan terus oleh tuan rumah dan tak mampu mengembangkan permainan.
Alhasil Liverpool menelan kekalahan ke-9 mereka musim ini dan untuk ke-11 kalinya mereka tak mampu menang jika tertinggal lebih dulu musim ini di mana tujuh laga berakhir dengan kekalahan. Tak hanya itu Liverpool sudah satu dekade tak mampu menang di kandang Southampton. Kemenangan terakhir diraih pada 18 Januari 2003 lewat gol tunggal Emile Heskey.
Penampilan buruk ini niscaya akan lama dirasakan Liverpool mengingat kompetisi akan rehat dua pekan untuk laga kualifikasi Piala Dunia 2014. Di pekan ke-31 mereka akan menghadapi Aston Villa di Villa Park, tim yang menaklukkan mereka 3-1 di Anfield beberapa bulan lalu.
Jelas kekalahan akan kian membenamkan impian Liverpool untuk lolos ke kompetisi Eropa -- baik itu Liga Europa ataupun Liga Champions -- musim depan. Mereka kini di posisi ketujuh dengan 45 poin, selisih lima angka dari Arsenal di urutan kelima dengan delapan laga tersisa.
Maka dari itu Liverpool diminta segera memperbaiki penampilan mereka dan kembali bangkit untuk memulai lagi rangkaian hasil positif yang dimulai dari laga kontra Villa.
"Masih ada beberapa laga yang kami harus mainkan. Kami masih punya delapan pertandingan lagi. Ini hanya soal konsentrasi kami dan menjaga fokus kami untuk laga-laga berikutnya. Kami tidak bisa berharap banyak -- masih banyak pembenahan yang harus kami lakukan," tutur Rodgers soal peluang 'Si Merah' lolos ke kompetisi Eropa musm depan.
"Kami banyak mendapat pujian dalam beberapa pekan terakhri karena banyaknya gol yang kami buat dan bagaimana hasil kerja kami, tapi hari ini menjadi peringatan bahwa kami masih harus membangun skuat kami lagi dan melakukan perbaikan," sambungnya.
"Para pemain sudah tampil brilian -- saya tidak bisa meminta lebih lagi dari mereka. Anda tidak bisa selalu bermain sempurna," demikian Rodgers di situs resmi tim.
( mrp / nds )
Rodgers: Liverpool Pantas Kalah
Mohammad Resha Pratama - detikSport
Minggu, 17/03/2013 01:08 WIB
FOTO:Getty Images via Liverpool FC/John Powell
Southampton - Tak ada keluhan dari Brendan Rodgers kala Liverpool kalah dari Southampton. Manajer The Reds mengakui timnya bermain buruk dan pantas mendapatkah hasil buruk tersebut.
Bertandang ke St Mary's, Sabtu (16/3/2013) malam WIB, Liverpool dalam kepercayaan diri tinggi pasca empat kemenangan beruntun sebelumnya. Terlebih pekan lalu mereka baru saja mengalahkan penghuni empat besar, Tottenham Hotspur.
Sementara itu Southampton sejak ditangani Mauricio Pochettino baru sekali menang. Namun ketika laga dimulai jalannya laga berbeda dengan perhitungan di atas kertas di mana Soton tampil dominan sejak menit awal dan mengurung pertahanan Liverpool.
Alhasil Soton unggul dua gol sebelum laga memasuki menit 40 lewat Morgan Schneiderlin dan Rickie Lambert. Coutinho sempat memberi asa untuk Liverpool lewat golnya di penghujung babak pertama namun Soton "membunuh" tim tamu lewat gol ketiga yang dicetak Jay Rodriguez di menit 80.
Soccernet mencatat Liverpool yang akhirnya kalah 1-3 cuma membuat total 10 tembakan dengan lima on goal. Sementara Soton bikin 18 dengan 11 mengarah ke gawang Brad Jones. Liverpool tampil buruk dan Rodgers mengaku Soton pantas memenangi laga itu.
"Saya pikir Southampton pantas menang. Kami tidak tampil seperti yang kami perlihatkan dalam beberapa pekan terakhir," ujar Rodgers di Sky Sports.
"Di pertandingan seperti ini sangat sulit untuk bisa memulai laga ketika Anda tertinggal dua gol lebih dulu. Kami baru benar-benar bangkit ketika tertinggal 0-2," sambungnya.
"Tiga gol yang bersarang benar-benar mengecewakan. tapi di antara gol kedua dan ketiga kami tampil sangat bagus."
"Kami bisa memperkecil skor jadi 1-2 sebelum babak pertama dan permainan kami lebih mengalir. Kami membuat beberapa kesempatan, lalu kami gol ketiga yang bersarang di gawang kami benar-benar buruk dan begitu mudah. Dari sudut pandang tersebut, memang kami tampil sangat mengecewakan," analisanya.
( mrp / rin )
Bertandang ke St Mary's, Sabtu (16/3/2013) malam WIB, Liverpool dalam kepercayaan diri tinggi pasca empat kemenangan beruntun sebelumnya. Terlebih pekan lalu mereka baru saja mengalahkan penghuni empat besar, Tottenham Hotspur.
Sementara itu Southampton sejak ditangani Mauricio Pochettino baru sekali menang. Namun ketika laga dimulai jalannya laga berbeda dengan perhitungan di atas kertas di mana Soton tampil dominan sejak menit awal dan mengurung pertahanan Liverpool.
Alhasil Soton unggul dua gol sebelum laga memasuki menit 40 lewat Morgan Schneiderlin dan Rickie Lambert. Coutinho sempat memberi asa untuk Liverpool lewat golnya di penghujung babak pertama namun Soton "membunuh" tim tamu lewat gol ketiga yang dicetak Jay Rodriguez di menit 80.
Soccernet mencatat Liverpool yang akhirnya kalah 1-3 cuma membuat total 10 tembakan dengan lima on goal. Sementara Soton bikin 18 dengan 11 mengarah ke gawang Brad Jones. Liverpool tampil buruk dan Rodgers mengaku Soton pantas memenangi laga itu.
"Saya pikir Southampton pantas menang. Kami tidak tampil seperti yang kami perlihatkan dalam beberapa pekan terakhir," ujar Rodgers di Sky Sports.
"Di pertandingan seperti ini sangat sulit untuk bisa memulai laga ketika Anda tertinggal dua gol lebih dulu. Kami baru benar-benar bangkit ketika tertinggal 0-2," sambungnya.
"Tiga gol yang bersarang benar-benar mengecewakan. tapi di antara gol kedua dan ketiga kami tampil sangat bagus."
"Kami bisa memperkecil skor jadi 1-2 sebelum babak pertama dan permainan kami lebih mengalir. Kami membuat beberapa kesempatan, lalu kami gol ketiga yang bersarang di gawang kami benar-benar buruk dan begitu mudah. Dari sudut pandang tersebut, memang kami tampil sangat mengecewakan," analisanya.
( mrp / rin )
Baca Juga
Rabu, 05 September 2012
Catatan dari Liverpool : Kalah Memang Bikin Lesu
Mohammad Resha Pratama - detikSport
Selasa, 04/09/2012 12:29 WIB
FOTO:detiksport/Resha Pratama
Anfield sudah begitu hiruk-pikuk dua jam sebelum kickoff menjamu Arsenal, Minggu (2/9) malam kemarin. Detiksport dan beberapa rekan media massa dari Indonesia berkesempatan menyambangi salah satu stadion paling terkenal di dunia itu atas undangan PT Garuda Indonesia selaku global partner Liverpool FC.
Saya tahu, begitu banyak testimoni tentang Liverpudlians dan Anfield. Yang terakhir saya baca adalah dari Carlo Ancelotti. Mantan bos Chelsea itu sampai bilang, "Dalam opini saya, suporter Liverpool adalah yang terbaik di dunia. Ketika mereka mulai menyanyikan lagu dukungan, rambut anda akan berdiri."
Well, tidak cuma rambut saya yang berdiri. Bulu kuduk saya juga seakan-akan jumpalitan ketika saya memasuki stadion yang sudah "merah" dan penuh riuh rendah itu. Baru situ saja saya sudah "gemetaran". Oya, maaf jika saya norak. Tapi kata orang, kesempatan langka tak boleh disia-siakan.
Kebetulan, saya fans berat klub kota kelahiran The Beatles ini. Jadi, ini sungguh sebuah momen dan pengalaman yang tak mungkin saya sia-siakan. Dan saya petang itu ada di situ, di Anfield, untuk menyaksikan langsung sebuah big match.
Maka tak perlu susah-susah membayangkan gairah suporter Liverpool menjelang kickoff. Dengan segala atribut klub kesayangan, mereka, laki-laki-perempuan, orangtua-pemuda-anak-anak, bernyanyi-nyanyi, berteriak-teriak. Ini adalah sebuah kesenangan. Ah, bukan. Ini lebih dari sekadar itu.
Dari obrolan saya dengan beberapa fans sebelum pertandingan, mereka mengaku sangat berharap Brendan Rodgers bisa memberi kemenangan pertamanya di laga ini.
"I dont know. Maybe i'm not really sure about this game. Tapi saya harap Brendan bisa menunjukkan kemampuannya dan memberi kami kemenangan," cetus Frank Steward (32), seorang pekerja kantoran.
Begitu pertandingan dimulai, oke, secara subyektif, sebagai penggemar Liverpool tentu saja, saya percaya bahwa suporter tim ini sungguh-sungguh luar biasa. Dan ya, saya pun akhirnya mendengarkan lagu "kebangsaan" itu dilantunkan tak henti-hentinya oleh mereka: You'll Never Walk Alone. Jujur, pembaca, saya sempat tak bisa berkata-kata, hehehe …
Suporter begitu ekspresif. Setiap kali Steven Gerrard menyerbu ke wilayah pertahanan Arsenal, mereka berdiri, menegang. Ketika Daniel Agger melakukan tekel bersih, mereka bertepuk tangan. Ketika Luis Suarez membuang peluang di kotak penalti, mereka memegang kepala, berseru "ough...". Dan ketika di menit 31 Lukas Podolski mengoyak jala Pepe Reina ….. mereka bungkam.
Dan mereka terdiam ketika di pertengahan babak kedua Santi Cazorla kembali menjebol gawang si botak Reina. Anfield terhenyak. Saya melihat raut-raut muka sedih dan kebingungan. Oh tidak, tim ini dilanda kekalahan.
Lalu, "kesoktahuan" saya muncul. Sebagai seorang fans Liverpool, dan berada di tengah-tengahan puluhan ribu suporter merah yang sedang dilanda kegalauan hebat di rumahnya sendiri ini, saya jadi ingin ikut memaki-maki sendiri.
Di awal kiprahnya di Liverpool, Rodgers sudah menemui kerikil-kerikil tajam yang menghalangi misinya merajut cerita indah di Merseyside, dari banyaknya pemain senior yang dilepas, plus keengganan Fenway Sports Group (FSG) dalam menginvestasikan dana besar untuk membeli pemain bintang.
Alhasil The Reds "cuma" bisa mendatangkan pemain sekelas Fabio Borini, Joe Allen dan Oussama Assaidi, serta meminjam Nuri Sahin. Memang performa Borini dan Allen di klub sebelumnya terbilang bagus, tapi apakah mereka berdua plus Sahin, yang musim lalu bermain tak lebih dari 10 kali di seluruh kompetisi bersama Real Madrid, cukup mampu membangunkan sang raksasa dari tidur panjangnya?
Hasil awalnya pun boleh dibilang belumlah memuaskan karena meski lolos ke babak utama Liga Europa dengan performa yang biasa-biasa saja, namun tiga laga awal Liga Inggris memperlihatkan memang revolusi Rodgers belum terlihat sedikitpun.
Dipecudangi West Bromwich Albion, Liverpool sempat memberi harapan kala merepotkan juara bertahan Manchester City dan sempat unggul sebelum bermain seri 2-2. Namun di laga ketiga kontra Arsenal, juara 18 kali Liga Inggris itu kembali tampil melempem.
Dari penilaian "sok tahu" saya, kebiasaan Liverpool bermain tanpa pola atau skema baku seperti musim lalu masihlah terlihat. Ditambah lagi performa Reina di bawah mistar sepertinya belum panas.
Kembali ke dalam Anfield, setelah Cazorla mencetak gol kedua untuk Arsenal, saya teringat pada harapan Frank Steward di atas. Harapan dan juga antusiasme Frank dan seisi Anfield tak terwujud. The Reds kalah 0-2.
Tidak bisa tidak, hanya kekecewaaan yang terlihat di Anfield setelah pertandingan selesai. Sebagian suporter malah ada yang meninggalkan stadion sebelum pertandingan usai, sesuatu yang sesungguhnya jarang terlihat kala Liverpool bermain di kandang sendiri.
Kelesuan itu terlihat dari jarangnya para Liverpudlian meneriakkan chant atau yel-yel untuk mendukung. Bahkan suporter Arsenal yang hadir di stadion sempat meneriakkan "Where is your famous atmosfer?" beberapa kali. Aneh, saya merasa ikut-ikutan panas mendengarnya, hehehe.
Kelesuan pun terlihat di wajah para suporter yang kebanyakan bergerumul di luar stadion usai pertandingan. Tatapan kosong serta celetukan-celetukan dan gerutuan seperti menggambarkan ketidakpercayaan mereka atas performa timnya saat ini. Langkah kaki yang berat para suporter saat berjalan seolah mentransformasi apa yang terjadi di atas lapangan pertandingan. Beberapa orang tampak kurang senang ketika saya membidikkan kamera saya ke arah mereka.
"Mereka sepertinya tidak tahu bagaimana mencetak gol. Bahkan untuk mengumpan saja mereka kesulitan. Benar-benar menyebalkan hari ini," keluh seorang fans bernama Hugh yang dengan wajah ketus mengucapkan kata-kata itu.
Tapi biarlah, kelesuan itu urusan mereka. Itu klub mereka dan hidup mereka ada di sana. Saya merasa cuma "tamu" di sini, walaupun menyimpan banyak replika jersey "Si Merah" di lemari baju saya di Jakarta. Tapi pengalaman merasakan Anfield dan segala atmosfernya sudah saya dapatkan -- dan takkan pernah terlupakan.
Saya seperti berhalusinasi, sebelum memejamkan mata di malam selarut itu, saya masih terngiang-ngiang pada lagu yang tadi menggemakan Anfield, yang jaraknya cuma 5 kilometer dari hotel tempat saya dan rombongan menginap: You'll Never Walk Alone.
Sampai jumpa.
( mrp / a2s )
Selasa, 04 September 2012
Rodgers: Awal Memang Selalu Sulit
Andi Abdullah Sururi - detikSport
FOTO:REUTERS/Phil Noble
Liverpool - Brendan Rodgers
masih belum bisa memberikan kemenangan buat Liverpool di pertandingan
Liga Inggris. Tapi dia tetap yakin bahwa tim yang dia arahkan akan
membaik.
The Reds menelan kekalahannya yang kedua hari ini, Minggu (29/9/2012), saat ditekuk 0-2 oleh Arsenal. Gawang Pepe Reina dijebol oleh Lukas Podolski dan Santi Cazorla.
Liverpool mengawali musim dengan kekalahan pula, yakni 0-3 dari West Brom, sebelum bermain imbang 2-2 dengan Manchester City di kandang sendiri.
Hanya satu poin dari tiga laga musim adalah catatan terburuk mereka sejak 1962/1963. Dan Rodgers, manajer baru yang direkrut di musim panas, ini menuturkan dalih-dalihnya.
"Ini soal membuat keputusan. Gol-gol yang bersarang di gawang kami tak ada hubungannya dengan gaya main kami, dengan sistem-sistem maupun elemen taktis di permainan ini. Kami kehilangan bola dan kemudian tak cukup baik untuk menghentikan tembakan (Podolski itu)," paparnya.
"Soal gol kedua, sebenarnya kami sudah menempatkan banyak pemain di belakang bola untuk pertahanan, dan kami menciptakan cukup banyak peluang. Tapi kami tidak cukup piawai untuk menuntaskannya.
"Banyak kebaikan yang datang dari pertandingan ini, tapi kami kalah dan kami harus meningkatkan performa. Kami akan lebih baik, musim kami akan mengalami perbaikan. Awal itu memang selalu sulit," tukasnya.
( a2s / nds )
FOTO:REUTERS/Phil Noble
The Reds menelan kekalahannya yang kedua hari ini, Minggu (29/9/2012), saat ditekuk 0-2 oleh Arsenal. Gawang Pepe Reina dijebol oleh Lukas Podolski dan Santi Cazorla.
Liverpool mengawali musim dengan kekalahan pula, yakni 0-3 dari West Brom, sebelum bermain imbang 2-2 dengan Manchester City di kandang sendiri.
Hanya satu poin dari tiga laga musim adalah catatan terburuk mereka sejak 1962/1963. Dan Rodgers, manajer baru yang direkrut di musim panas, ini menuturkan dalih-dalihnya.
"Ini soal membuat keputusan. Gol-gol yang bersarang di gawang kami tak ada hubungannya dengan gaya main kami, dengan sistem-sistem maupun elemen taktis di permainan ini. Kami kehilangan bola dan kemudian tak cukup baik untuk menghentikan tembakan (Podolski itu)," paparnya.
"Soal gol kedua, sebenarnya kami sudah menempatkan banyak pemain di belakang bola untuk pertahanan, dan kami menciptakan cukup banyak peluang. Tapi kami tidak cukup piawai untuk menuntaskannya.
"Banyak kebaikan yang datang dari pertandingan ini, tapi kami kalah dan kami harus meningkatkan performa. Kami akan lebih baik, musim kami akan mengalami perbaikan. Awal itu memang selalu sulit," tukasnya.
( a2s / nds )
Podolski dan Cazorla Bungkam Publik Anfield
Penulis: Okky Herman Dilaga |
Minggu, 02 September 2012 | 21:28 WIB

Striker Arsenal Lukas Podolski (kanan) ditempel bek Liverpool
Glen Johnson pada pertandingan di Anfield, Liverpool, Minggu (2/9/2012).
Podolski sukses mengantarkan Arsenal menang 2-0 atas Liverpool dalam
lanjutan pekan ketiga Premier League.
TERKAIT
LIVERPOOL, KOMPAS.com -
Liverpool dipaksa menelan pil pahit ditaklukkan Arsenal di Stadion
Anfield, Minggu (2/9/2012). Masing-masing gol dari Lukas Podolski dan
Santi Cazorla mengantarkan Arsenal merengkuh kemenangan pertamanya musim
ini.
Tampil di kandang sendiri, Liverpool mencoba menguasai permainan. Steven Gerrard memang memiliki 53 penguasaan bola pada awal-awal laga. Namun, serangan mereka masih belum membahayakan pertahanan Arsenal. Liverpool mampu melakukan delapan tendangan ke gawang, tapi tak satu pun yang tepat sasaran.
Arsenal juga sempat kesulitan membobol pertahanan lawan. Bahkan, "The Gunners" hanya mampu melepaskan lima tendangan ke gawang. Meski begitu, justru Arsenal yang unggul lebih dulu pada menit ke-31. Sebuah umpan manis dari Cazorla, langsung diteruskan dengan baik oleh Lukas Podolski. Meski dikawal Glen Johnson, Podolski mampu mengirim bola ke gawang Liverpool, tanpa mampu dihalau kiper Pepe Reina.
Liverpool mencoba bangkit. Pada menit ke-38, Raheem Sterling sebenarnya memiliki peluang untuk menyamakan kedudukan. Dia melakukan tendangan dari sisi kanan pertahanan Arsenal, namun bola masih membentur tiang gawang.
Semenit kemudian, serangkaian serangan Liverpool menghasilkan kemelut di depan gawang Arsenal, namun masih belum menghasilkan apa-apa.
Justru Arsenal yang nyaris menambah gol lewat serangan balik. Sayang, Olivier Giroud yang tinggal berhadaan dengan kiper kurang sempurna menendang bola dan keluar. Hingga babak pertama usai, Arsenal tetap unggul 1-0.
Memasuki babak kedua, Arsenal hampir saja menggandakan kedudukan. Carl Jenkinson yang merangsek naik, melepaskan tembakan keras ke pojok gawang Liverpool. Beruntung, Reina mampu mementahkan peluang bek muda "The Gunners" itu.
Liverpool yang terlihat belum bisa berbuat banyak, mulai mengganti susunan pemainnya. Nuri Sahin ditarik keluar untuk ditukar Jonjo Shelvey pada menit ke-67. Brendan Rodgers rupanya ingin lebih menyerang demi meraih gol penyeimbang.
Alih-alih membuat gol untuk menyamakan skor, publik Anfield kembali dibuat terdiam. Pada menit ke-69, kolaborasi apik Cazorla dan Podolski mampu diselesaikan nama pertama lewat sepakan kaki kiri menyusur tanah. Bola hasil tembakan Cazorla sempat mengenai Reina, namun sang kiper malah membelokkan bola ke gawang sendiri.
Empat menit sebelum bubaran, Liverpool berpeluang memperkecil kedudukan. Sayangnya, aksi Shelvey yang diteruskan tendangan keras masih bisa diblok Vito Mannone. Gagal kesempatan Liverpool mencari gol. Hingga pertandingan usai, skor tetap bertahan 2-0 untuk kemenangan Arsenal.
Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Arsenal. Pasukan Arsene Wenger kini memiliki poin lima dari tiga pertandingan. Sedangkan Liverpool belum juga "memecahkan" telur nihil kemenangan. Dalam tiga laga, "The Reds" baru mengemas satu poin.
Susunan Pemain
Liverpool: 25-Pepe Reina, 5-Daniel Agger, 37-Martin Skrtel, 3-Jose Enrique, 2-Glen Johnson, 24-Joe Allen, 4-Nuri Sahin (33-Jonjo Shelvey 67), 8-Steven Gerrard, 31-Raheem Sterling, 7-Luis Suarez, 29-Fabio Borini (19-Stewart Downing 54)
Arsenal: 24-Vito Mannone, 5-Thomas Vermaelen (6-Laurent Koscielny 90), 4-Per Mertesacker, 28-Kieran Gibbs, 25-Carl Jenkinson, 8-Mikel Arteta, 2-Abou Diaby, 9-Lukas Podolski (11-Andre Santos 82), 15-Alex Oxlade-Chamberlain (16-Aaron Ramsey 73), 12-Olivier Giroud, 19-Santi Cazorla
Tampil di kandang sendiri, Liverpool mencoba menguasai permainan. Steven Gerrard memang memiliki 53 penguasaan bola pada awal-awal laga. Namun, serangan mereka masih belum membahayakan pertahanan Arsenal. Liverpool mampu melakukan delapan tendangan ke gawang, tapi tak satu pun yang tepat sasaran.
Arsenal juga sempat kesulitan membobol pertahanan lawan. Bahkan, "The Gunners" hanya mampu melepaskan lima tendangan ke gawang. Meski begitu, justru Arsenal yang unggul lebih dulu pada menit ke-31. Sebuah umpan manis dari Cazorla, langsung diteruskan dengan baik oleh Lukas Podolski. Meski dikawal Glen Johnson, Podolski mampu mengirim bola ke gawang Liverpool, tanpa mampu dihalau kiper Pepe Reina.
Liverpool mencoba bangkit. Pada menit ke-38, Raheem Sterling sebenarnya memiliki peluang untuk menyamakan kedudukan. Dia melakukan tendangan dari sisi kanan pertahanan Arsenal, namun bola masih membentur tiang gawang.
Semenit kemudian, serangkaian serangan Liverpool menghasilkan kemelut di depan gawang Arsenal, namun masih belum menghasilkan apa-apa.
Justru Arsenal yang nyaris menambah gol lewat serangan balik. Sayang, Olivier Giroud yang tinggal berhadaan dengan kiper kurang sempurna menendang bola dan keluar. Hingga babak pertama usai, Arsenal tetap unggul 1-0.
Memasuki babak kedua, Arsenal hampir saja menggandakan kedudukan. Carl Jenkinson yang merangsek naik, melepaskan tembakan keras ke pojok gawang Liverpool. Beruntung, Reina mampu mementahkan peluang bek muda "The Gunners" itu.
Liverpool yang terlihat belum bisa berbuat banyak, mulai mengganti susunan pemainnya. Nuri Sahin ditarik keluar untuk ditukar Jonjo Shelvey pada menit ke-67. Brendan Rodgers rupanya ingin lebih menyerang demi meraih gol penyeimbang.
Alih-alih membuat gol untuk menyamakan skor, publik Anfield kembali dibuat terdiam. Pada menit ke-69, kolaborasi apik Cazorla dan Podolski mampu diselesaikan nama pertama lewat sepakan kaki kiri menyusur tanah. Bola hasil tembakan Cazorla sempat mengenai Reina, namun sang kiper malah membelokkan bola ke gawang sendiri.
Empat menit sebelum bubaran, Liverpool berpeluang memperkecil kedudukan. Sayangnya, aksi Shelvey yang diteruskan tendangan keras masih bisa diblok Vito Mannone. Gagal kesempatan Liverpool mencari gol. Hingga pertandingan usai, skor tetap bertahan 2-0 untuk kemenangan Arsenal.
Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Arsenal. Pasukan Arsene Wenger kini memiliki poin lima dari tiga pertandingan. Sedangkan Liverpool belum juga "memecahkan" telur nihil kemenangan. Dalam tiga laga, "The Reds" baru mengemas satu poin.
Susunan Pemain
Liverpool: 25-Pepe Reina, 5-Daniel Agger, 37-Martin Skrtel, 3-Jose Enrique, 2-Glen Johnson, 24-Joe Allen, 4-Nuri Sahin (33-Jonjo Shelvey 67), 8-Steven Gerrard, 31-Raheem Sterling, 7-Luis Suarez, 29-Fabio Borini (19-Stewart Downing 54)
Arsenal: 24-Vito Mannone, 5-Thomas Vermaelen (6-Laurent Koscielny 90), 4-Per Mertesacker, 28-Kieran Gibbs, 25-Carl Jenkinson, 8-Mikel Arteta, 2-Abou Diaby, 9-Lukas Podolski (11-Andre Santos 82), 15-Alex Oxlade-Chamberlain (16-Aaron Ramsey 73), 12-Olivier Giroud, 19-Santi Cazorla
Editor :
Hery Prasetyo
Rabu, 02 Mei 2012
Dalglish Akui Salah Istirahatkan Pemain Utama
Liverpool - Turun tanpa banyak diperkuat oleh pemain utamanya, Liverpool dipaksa menelan kekalahan dari Fulham di Anfield. Kenny Dalglish mengakui jika ia salah tak banyak menurunkan pemain intinya.
Menjamu Fulham di Anfield, Rabu (2/5/2012) dinihari WIB, The Reds dipaksa menyerah 0-1. Kekalahan Liverpool hadir lewat gol bunuh diri Martin Skrtel di menit kelima.
Dalam laga ini, Dalglish tak banyak menurunkan pemain utamanya. Nama-nama seperti Steven Gerrard, Luis Suarez, dan Pepe Reina tak ada di bangku cadangan.
Manajer asal Skotlandia itu mengistirahatkan mereka demi menghadapi laga final Piala FA kontra Chelsea di hari Sabtu akhir pekan ini. Namun pilihan itu diakui salah oleh Dalglish.
"Sikap dan pendekatan pada laga ini salah. Tidak ada sikap dan keinginan. Kami tidak bisa bermain pada tempo itu, kami harus lebih cepat," ujar Daglish seusai laga.
"Mungkin saya bersalah karena sebisa mungkin mencoba memberi pemain lain kesempatan agar semua siap di hari Sabtu," sambungnya.
"Kami mencoba untuk adil dan memberi setiap pemain kesempatan. Mungkin saya salah."
"Ada satu atau dua yang bermain baik. Tapi terlepas dari itu, ini bukan malamnya Liverpool, termasuk saya. Ada banyak orang yang harus bertanggung jawab," tutup Dalglish seperti dikutip Sky Sports.
( rin / mfi )
Novitasari Dewi Salusi - detikSport
Rabu, 02/05/2012 05:27 WIB
Senin, 02 April 2012
Liverpool Kalah, Carroll Mengamuk

VIVAbola – Liverpool kembali menelan kekalahan setelah ditaklukkan Newcastle United di lanjutan laga Premier League.
Bertanding di Sports Direct Arena, Minggu 1 April 2012, Liverpool tampak tidak berdaya. Serangan demi serangan terus dibangun The Toon Army. Puncaknya, di menit 20 penyerang Papiss Cisse berhasil menjebol gawang Pepe Reina. Cisse bahkan mampu menggandakan keunggulan menjadi 2-0 di menit 50. Skor itu pun berakhir hingga usai.
Andy Carroll, mantan penyerang Newcastle yang diboyong Liverpool pada Januari 2011, masih tampil dibawah performa terbaiknya. Ia bahkan terkena kartu kuning karena wasit menganggap dirinya diving saat berhadapan langsung dengan kiper Newcastle, Tim Krul.
Buruknya permainan Carroll membuat ia digantikan oleh Dirk Kuyt di menit 79 oleh manajer Kenny Dalglish. Frustrasi, Carroll langsung mengamuk kepada manajernya itu. Ia tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata kasar kepada Dalglish.
Tidak hanya Dalglish yang diamuki Carroll, seperti dilansir Mirror Football, Ia bahkan meneriaki manajer Newcastle United, Alan Pardew terkait kartu kuning yang didapatnya.
Dalglish kemudian mengatakan jika Carroll hanya kesal dengan hasil yang didapat Liverpool. Ia menyatakan jika dirinya tidak marah dan memaklumi perasaan Carroll ketika itu.
“Andy sangat frustasi. Tidak hanya kepada dirinya sendiri tetapi juga ke tim. Kami tidak mempunyai masalah dengan pemain yang menunjukkan kekecewaan mereka. kami hanya perlu menjadi yang lebih baik lagi nantinya,” ujar Dalglish.
Soal kartu merah yang didapat Reina, arsitek asal Skotlandia ini menyatakan ia pantas mendapatkannya. Akibat kartu merah itu, Reina tidak bisa bermain di semi final Piala FA melawan Everton, Sabtu 14 April 2012.
• VIVAbola
Langganan:
Postingan (Atom)