Tampilkan postingan dengan label juara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label juara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Puncak Klasemen Tak Jadi Beban untuk Rodgers dan Liverpool


Mohammad Resha Pratama - detiksport

Liverpool - Brendan Rodgers menegaskan Liverpool sama
sekali tak tertekan dengan posisi mereka di puncak
klasemen dan jadi favorit juara. Baginya musim ini sudah
berjalan luar biasa untuk 'Si Merah'.
Sama sekali tak diunggulkan untuk bisa bersaing di jalur
juara, Liverpool justru ada di pos terdepan untuk meraih
titel Premier League pertama mereka. Dengan musim
menyisakan tiga pekan lagi, Liverpool punya 80 poin,
unggul lima angka dari Chelsea serta enam angka dari
Manchester City yang masih punya satu laga tersisa.
Akhir pekan ini tekanan akan kian deras datang ke tim
asal Merseyside itu karena Chelsea akan mendatangi
mereka di Anfield untuk laga penentuan gelar juara.
Kemenangan akan kian mendekatkan The Reds ke tangga
juara, sementara hasil lain akan membuka peluang City
atau Chelsea menyalip di pekan-pekan akhir.
Liverpool boleh dibilang jarang dalam posisi demikian
karena dalam beberapa musim terakhir mereka kerap
kesulitan menembus papan atas. Musim ini dengan skuat
yang pas-pasan, mereka mampu mengangkangi Chelsea
dan City yang punya amunisi wah serta kekuatan
finansial.
Bagi Rodgers, kondisi saat ini tak jadi tekanan untuk
timnya serta dirinya melainkan suatu pencapaian luar
biasa yang harus dinikmati. Terlepas dari hasil di akhir
musim nanti, Rodgers sudah puas dengan apa yang
ditunjukkan Steven Gerrard dkk.
"Tidak, tidak sama sekali," ujar Rodgers ketika ditanya
apakah sukses atau tidaknya Liverpool musim ini dinilai
dari keberhasilan meraih trofi Premier League.
"Apapun yang terjadi pada kami, kami sudah tampil
brilian musim ini," lanjutnya seperti dikutip Soccerway.
"Bohong namanya jika saya mengatakan di awal musim
bahwa kami bisa memuncaki klasemen di saat-saat
seperti ini."
"Tekanan? Itu ada pada Man City dan Chelsea, karena
mereka diharapkan untuk menjadi juara."
"Saya menikmati puncak klasemen. Saya tidak pernah
tidur nyenyak seperti saat ini," tuntas manajer asal
Irlandia Utara itu.

Selasa, 03 September 2013

Rodgers Belum Mau Bicarakan Gelar Juara


Meylan Fredy Ismawan - detikSport
Senin, 02/09/2013 14:01 WIB
Getty Images/Alex Livesey
Liverpool - Liverpool di bawah kepemimpinan manajer Brendan Rodgers membuat start yang impresif di Premier League musim ini. Meski timnya sedang bagus dan terlihat menjanjikan, Rodgers tak mau diajak bicara soal gelar juara.

Liverpool sejauh ini masih sempurna. Menjalani tiga pertandingan, The Reds selalu menang dengan skor 1-0, masing-masing melawan Stoke City, Aston Villa, dan terakhir Manchester United.

Tiga kemenangan itu mengangkat posisi Liverpool ke puncak klasemen sementara Premier League. Mereka menjadi satu-satunya tim yang sudah mengumpulkan sembilan poin.

Situasi tersebut tak membuat Rodgers besar kepala. Menurutnya, musim masih sangat jauh dari kata selesai. Posisi mereka di puncak pun masih sangat mungkin direbut tim lain.

"Kami masih punya sisa 35 pertandingan," ujar Rodgers yang dikutip FOX Sports Asia.

"Kami tidak akan terlena. Tim masih harus banyak berbenah dan banyak pekerjaan di depan kami," sambungnya.

"Tantangan awal kami tetap untuk menembus empat besar," kata Rodgers.

(mfi/cas)

Senin, 27 Februari 2012

Lewati Drama Adu Penalti, Liverpool MenangiPiala Liga Inggris

Mohammad Resha Pratama : Sepakbola
detikcom -
London,
Liverpool
akhirnnya tampil
sebagai juara di
Piala Liga Inggris,
setelah
menaklukkan
Cardiff City di final
melalui drama adu
penalti.
Baru satu menit laga berjalan Liverpool sudah memberi
ancaman. Glen Johnson melepaskan tembakan
melengkung di sedikit luar kotak penalti tapi bola masih
membentur mistar.
Cardiff membuat peluang pertamanya di menit 19 dan
langsung berbuah gol. Diawali bola yang tak disapu
sempurna oleh barisan belakang Liverpool, Kenny Miller
mendapatkannya dan langsung memberi umpan
terobosan kepada Mason.
Mason yang bebas dengan mudah menaklukkan Pepe
Reina lewat sebuah tembakan mendatar melewati
kakinya. Cardiff 1-0 Liverpool.
Di menit 42 Luis Suarez punya peluang di depan kotak
penalti. Tapi sayang tembakannya masih terlalu lemah
dan bola bisa diamankan kiper Cardiff.
Semenit setelahnya dari sebuah free kick Steven Gerrard,
bola dilepaskan kotak penalti dan Daniel Agger
menanduknya. Bola masih tepat ditangkap Tom Heaton.
Skor 1-0 pun tetap bertahan hingga turun minum.
Sejam laga berjalan Liverpool akhirnya mampu
menyamakan kedudukan. Diawali korner Stewart
Downing, bola mengarah ke Andy Carroll dan diumpan ke
Suarez.
Suarez menanduk bola tapi masih menerpa tiang. Bola
rebound langsung disambar Skrtel untuk menciptakan
gol.
Liverpool masih unggul di paruh kedua laga ini dengan
menciptakan beberapa peluang namun masih gagal
menembus gawang Cardiff yang dijaga Heaton.
Di menit 85 Miller nyaris saja membuat gol kedua Cardiff.
Setelah lolos dari penjagaan pemain-pemain Liverpool, ia
berdiri bebas dan melepaskan sepakan yang sayang bola
masih melayang.
Gerrard punya peluang di masa injury time tapi
tembakannya masih melayang di atas mistar. Alhasil skor
1-1 tetap bertahan dan laga dilanjutkan ke Extra Time
2x15 menit.
Kuyt! Liverpool akhirnya berbalik unggul di menit 107.
Kuyt melakukan solo run dari tengah lapangan dan
diakhiri dengan sepakan ke arah gawang. Tapi bola
tertahan kaki bek Cardiff.
Bola rebound kembali ke arah Kuyt dan tanpa ampun
langsung disambut tembakan keras yang menghujam
pojok kiri gawang Heaton. Cardiff 1-2 Liverpool.
Kemenangan Liverpool di depan mata akhirnya sirna
ketika Ben Turner di menit 117 menciptakan gol
penyama kedudukan melalui kemelut di depan gawang
Reina.
Akhirnya skor 2-2 bertahan hingga 2x15 Extra Time habis
dan adu penalti harus dilakukan untuk menentukan
pemenangnya.
Dalam drama adu penalti Liverpool akhirnya memenangi
Piala Liga Inggris setelah menang 3-2.
Susunan pemain
Cardiff: Heaton; McNaughton (Blake 106'), Hudson
(A.Gerrard 98'), Turner, Taylor; Cowie, Gunnarsson,
Whittingham, Gestede, Mason (Kiss 90'); Miller.
Liverpool: Reina; Johnson, Skrtel, Agger (Carragher 87'),
Jose Enrique; Henderson (Bellamy 57'), Gerrard, Adam,
Downing; Suarez, Carroll (Kuyt 103')

Minggu, 09 Oktober 2011

Yakin Liverpool Masih Bisa Juara, Carra BidikMU

Lucas Aditya : Sepakbola
detikcom -
Liverpool,
Jamie Carragher
masih optimistis
dengan kans
juara Liverpool.
Sebagai awal,
Carragher pun
membidik tiga
angka kontra
sang juara
bertahan
sekaligus
pemuncak
klasemen
sementara,
Manchester
United.
Sebelumnya
pemain
Liverpool lain,
Luis Suarez, menganggap Liverpool sudah sulit
bersaing dalam perebutan gelar juara Liga Inggris.
Tetapi Carragher punya opini berbeda.
"Saat ini orang-orang bilang kami (hanya) bersaing
dengan (Tottenham) Spurs dan Arsenal karena kami
sedikit tertinggal dari (Manchester) City dan MU,"
katanya kepada TalkSport.
"Tapi jika kami bisa mengejar mereka dalam
beberapa bulan ke depan (siapa yang tahu). Kami
selanjutnya akan menghadapi MU, jadi jika kami
bisa meraup tiga angka di partai itu, dan kemudian
lawan City dan Chelsea, Anda bisa berubah opini,"
simpul pemain yang akrab disapa Carra tersebut.
Selewat tujuh laga, 'Si Merah' kini menempati
peringkat lima klasemen dengan mengoleksi 13
angka. Liverpool ketinggalan enam poin dari duo
Manchester yang bertengger di dua tangga teratas
klasemen. Pada hari Sabtu (15/10/2011), Liverpool
akan menjamu MU di Anfield.

Minggu, 19 Juni 2011

Carragher Rindu Trofi

Rossi Finza Noor : Sepakbola
detikcom -
Liverpool,
Selama
kariernya
bersama
Liverpool,
Jamie
Carragher sudah memenangi beberapa
titel. Mengingat trofi terakhir yang
diangkatnya sudah cukup lama,
Carragher pun merindukan trofi baru.
Carragher sudah punya beberapa
medali juara, di antaranya Piala FA 2001
dan 2006,Piala Carling 2001 dan 2003,
Liga Champions 2005, Piala UEFA 2001
dan Piala Super Eropa pada 2002 dan
2005. Cukup lengkap, hanya saja
kurang titel juara Premier League.
Liverpool sendiri belum lagi
mengangkat trofi sejak memenangi
Piala FA 2006 dan memenangi Liga
Inggris sejak 1990. Wajar kalau
kemudian Carra curhat soal
kerinduannya itu.
"Kami ingin berada di sana. Liverpool
harus menjadi penantan untuk
memenangi trofi-trofi," ujarnya kepada
Sky Sports.
"Sudah beberapa tahun berlalu sejak
terakhir kali kami menjadi juara dan itu
yang akan kami ubah di musim depan.
Saya yakin, semua orang di sini punya
pemikiran yang sama," lanjutnya.
Imbas dari kehampaan trofi itu,
terutama di Liga Inggris, The Reds pun
disalip Manchester United dalam
perolehan trofi juara. Carrager
memberi selamat kepada 'Setan Merah',
namun juga mengingatkan klubnya
supaya tidak kian tertinggal dari sang
rival.
"Jika Man United menang, mereka
menang dan Anda harus memberikan
selamat serta menghormati apa yang
sudah mereka capai."
"Kami tak bisa selamanya
mempertahankan rekor ini--kami
punya rekor lima gelar Liga
Champions--jika kami tak bisa
berkompetisi dengan mereka."
"Kami harus berusaha untuk
memenangi (trofi, red) lebih banyak
lagi karena sudah terlalu lama bagi
Liverpool. Ini adalah sesuatu yang
berusaha kami ubah," tandasnya.

Selasa, 10 Mei 2011

Carragher: Juara Musim Depan? Kami Tak Mau Berekspektasi

Selasa, 10/05/2011 08:11 WIB
Carragher: Juara Musim Depan? Kami Tak
Mau Berekspektasi
Rossi Finza Noor : Sepakbola
detikcom - London, Usai mengalahkan Fulham
5-2, Liverpool pun dinilai siap untuk menjadi
penantang juara musim depan. Namun, Jamie
Carragher tak mau berekspektasi berlebihan
karena harapan itu.
Kemenangan di Craven Cottage tersebut diawali
dengan gol cepat Maxi Rodriguez di detik ke-34.
Lalu, kemudian dalam kurun waktu 15 menit, The
Reds sudah unggul 3-0. Liverpool menjanjikan di
babak pertama.
Di babak kedua, Fulham sempat memperkecil
ketertinggalan menjadi 1-3. Namun, Liverpool
mengunci kemenangan ketika Maxi mencetak gol
ketiganya dan Luis Suarez melengkapinya
dengan gol kelima. Fulham hanya bisa membalas
lewat gol Steve Sidwell.
Liverpool juga memenangi 51% penguasaan
bola, melepaskan 17 sepakan sepanjang laga dan
sembilan di antaranya tepat sasaran.
Kemenangan atas Fulham ini juga menjadi yang
ketiga dalam tiga laga terakhir, di mana 'Si Merah'
menghasilkan 13 gol dan hanya kebobolan dua
gol.
Melihat catatan seperti itu, wajar jika Liverpool
disebut-sebut bakal menjadi penantan serius
musim depan. Tapi, ketika ditanya apakah
Liverpool akan menjadi penantang musim
depan, Carragher justru berusaha meredam
euforia.
"Kami mendapatkan pertanyaan itu setiap
musim. Musim depan akan menjadi awal yang
baru, tapi tak mau berekspektasi," ujarnya
kepada BBC.
"Yang kami inginkan hanya terus seperti ini,"
lanjutnya.

Selasa, 01 Maret 2011

Bila MU Bertemu Liverpool


Catatan Sepakbola
Bila MU Bertemu Liverpool
LY Arifin : Sepakbola
detikcom - London,
Suatu saat sekitar
bulan November
1959 Bill Shankly
yang menjadi pelatih
di Huddersfield
didatangi dua petinggi
dari Liverpool. Terjadi
percakapan yang
cuplikannya kira-kira
seperti ini:
"Tidakkah Anda berminat menjadi pelatih di klub terbaik Inggris?"
tanya salah satu dari kedua petinggi Liverpool itu.
"Mengapa? Apakah Matt Busby mengundurkan diri?’" Shankly balas
bertanya.
Kita tahu apa yang ada di benak Shankly, karena Matt Busby
sedang berproses menjadi pelatih legendaris Manchester United
dan klub itu sedang merajai dunia persepakbolaan Inggris.
Sedangkan Liverpool saat itu sudah cukup bergembira duduk di
papan tengah divisi dua versi lama Liga Inggris.
Ini sekadar ilustrasi bahwa sebenarnya persaingan paling sengit di
antara kedua tim tersebut belumlah terlalu lama. Kalau dihitung
sejak Shankly memegang Liverpool tahun 1959, maka persaingan
sengit MU dan Liverpool baru berlangsung 50 tahun. Jauh lebih
muda dari persaingan sengit antara Liverpool dan Everton yang
sudah ada sejak 50 tahun sebelumnya, atau Manchester United
dan Manchester City, atau Arsenal dan Tottenham sejak tahun
1930-an, serta Chelsea dan Fulham ataupun Burnley dan
Blackburn.
Shankly mengagumi pemain-pemain MU maupun klub itu, tetapi
pada saat bersamaan mempunyai tekad membara untuk
menggoyang hirarki persepakbolaan Inggris. Membawa Liverpool
kembali ke puncak persepakbolaan Inggris. Dialah yang
sesungguhnya memantik persaingan sengit antara kedua klub
raksasa Inggris ini.
Shankly yang prestasinya biasa-biasa saja sebelum memegang
Liverpool, hanya dalam waktu lima tahun membawa Liverpool
dari klub papan tengah divisi dua menjadi juara divisi satu
menyingkirkan MU maupun -- yang lebih penting lagi sebenarnya
-- musuh bebuyutan satu kota sekaligus juara bertahan, Everton.
Dua tahun kemudian di tahun 1966 ia mengulangi prestasi itu.
Tahun 1965 ia membawa Liverpool menjuarai Piala FA untuk
pertama kalinya.
Shankly tidak lagi membawa Liverpool menjadi juara divisi satu
hingga tahun 1973. Namun dalam proses kebangkitan Liverpool ia
menanamkan rasa percaya diri yang luar biasa bahwa Liverpool
tidak kalah besar dengan klub lain. Bahwa bermain untuk Liverpool
adalah sebuah kehormatan. Dan andaipun Liverpool tidak menjadi
juara, sangat penting untuk mengalahkan mereka yang dianggap
terbesar dan tersukses, bagaimanapun caranya, bermain habis-
habisan seolah mati hidup tergantung pada pertandingan itu.
Shankly dengan sengaja menjadikan MU sebagai sasaran. Apalagi
ketika mereka di tahun 1968 menjadi klub Inggris pertama yang
memenangi Piala Champions. Boleh saja MU waktu itu
menganggap dirinya klub tersukses, tetapi bertemu Liverpool
mereka tahu reputasi itu tak ada artinya. Pertandingan akan
berlangsung seperti pertempuran habis-habisan.
Adalah "kehendak" sejarah bahwa di tahun 1970-an MU dan
Liverpool bertukar posisi. Ketika revolusi yang diawali oleh Shankly
diteruskan Bob Paisley dan kemudian Joe Fagan – dua asisten
pelatih Shankly -- membuat Liverpool bukan saja raja Inggris tetapi
juga Eropa, nasib MU terpuruk-puruk bahkan sempat terdegradasi
ke divisi dua di tahun 1975. Namun perseteruan antara kedua klub
sudah terlanjur mapan dan tidak mengendor untuk tidak dikatakan
malah makin sengit. Liverpool ganti menjadi klub paling sukses di
Inggris tetapi mereka tahu melawan MU adalah persoalan berbeda.
MU akan menjadi “Setan Merah” yang sesungguhnya dan
Liverpool harus bersiaga tanpa henti.
Sejak pertengahan tahun 60-an itulah pertarungan MU melawan
Liverpool menjadi salah satu pertandingan paling sengit dan paling
ditunggu publik Inggris, seolah lepas dari konteks keseluruhan
kompetisi liga. Kedua klub seperti bertekad, kalaulah tidak menjadi
juara maka yang lebih utama bagi MU adalah mengalahkan
Liverpool, begitupun sebaliknya.
Kedua klub saling mengukur pencapaian prestasi mereka dari apa
yang sudah diraih oleh keduanya. Ingatkah Anda ketika Alex
Ferguson untuk pertama kalinya datang ke MU lebih 20 tahun
silam? Ketika ditanya wartawan salah satu target utamanya
menjadi pelatih di Old Trafford, Ferguson tanpa sungkan
menjawab: "Menendang Liverpool dari puncak hirarki sepakbola
Inggris."
Seperti Shankly di Liverpool, Ferguson melakukan revolusi di MU.
Bedanya, Ferguson bukan sekadar memulai revolusi tetapi juga
menjaga revolusi itu untuk tidak padam. Ia masih saja menjadi
pelatih hingga kini. Ia memegang janjinya untuk menendang
Liverpool dari puncak hirarki sepakbola Inggris. Entah untuk berapa
lama lagi.
Kedua klub akan bertemu lagi akhir pekan ini. Kedua pendukung
klub akan membawa panji-panji prestasi mereka masing-masing:
kami lebih banyak memenangkan Piala Eropa dari kalian, Piala FA
kami lebih banyak, prestasi kami lebih bergengsi dan lain
sebagainya. Tetapi di hati kecil mereka semuanya tahu, catatan
prestasi itu tak lebih dekorasi semata. Yang lebih penting adalah
apa yang terjadi selama 90 menit di lapangan.
Pertemuan antara kedua kesebelasan ini ,apapun nama
kompetisinya, hanya mempunyai satu konteks: selama 90 menit
mana yang lebih hebat, klubmu atau klubku. Peduli amat dengan
kompetisi liga, Piala FA, Piala Liga, ataupun Liga Champions.
Atau ... ya kami peduli, tapi itu urusan nanti.
==
*) Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.