Eks Kapten Liverpool , Steven Gerrard, mendoakan Gary McAllister agar bisa sukses bersama The Reds .
McAllister pernah memperkuat Liverpool pada tahun 2000 hingga tahun 2002 silam. Setelah lama berpisah dengan klub Merseyside tersebut, pria asal Skotlandia itu kembali ke Anfield. Ia kembali ke klub tersebut untuk membantu Brendan Rodgers melatih Jordan Henderson cs.
Gerrard sendiri pernah bermain bersama McAllister. Walau hanya bersama selama dua tahun, namun keduanya bisa bahu-membahu mempersembahkan lima trofi bagi Liverpool. Setelah mengetahui seniornya itu kembali ke Anfield untuk menjadi pelatih, Stevie G pun langsung mendoakan yang bersangkutan agar bisa sukses menjalani karirnya di Anfield.
Had a couple on this pic but could not of been in better company . Good luck to Gary Mc on his new role at LFC #topfella
A photo posted by Steven Gerrard (@stevengerrard) on Jul 10, 2015 at 6:24pm PDT
"Semoga sukses untuk Gary Mc dalam menjalani peran barunya di LFC." Ujar Gerrard dalam akun Instagramnya.
Selama membela Liverpool, McAllister sempat mempersembahkan gelar Piala FA, Piala Liga, Charity Shield, Piala UEFA dan Piala Super Eropa. (insta/dim)
Senin, 13 Juli 2015
Gerrard Doakan McAllister Sukses di Liverpool
Selasa, 04 November 2014
Rodgers Ingin Secepatnya Pulihkan Ketajaman The Reds
Mohammad Resha Pratama - detik.com
Liverpool - Liverpool musim ini bak
kehilangan ketajamannya dan membuat performa tim terganggu. Maka dari itu Brendan Rodgers pun ingin bekerja sekeras dan secepat mungkin mengembalikan naluri gol 'Si Merah'.
Musim lalu Liverpool bikin 101 gol, hanya selisih satu dari Manchester
City yang jadi juara Premier League. Permainan aktraktif yang ditunjang duet maut Luis Suarez dan Daniel Sturridge jadi andalan Liverpool untuk mengalahkan lawan-lawannya.
Tapi musim ini tiba-tiba saja kesaktian Liverpool menghilang. Bersamaan dengan dijualnya Suarez ke Barcelona, Liverpool juga kehilangan Sturridge yang dihantam dua cedera sekaligus, yang membuatnya absen sejak awal September lalu.
Kontan saja penampilan Liverpool kemudian terganggu, dan buktinya musim ini mereka baru bikin 13 gol dari 10 pertandingan liga, serta terpuruk di posisi ketujuh klasemen. Sementara itu di Liga Champions baru 2 gol dibuat dari tiga pertandingan, serta sudah dua kali kalah.
Tak pelak ini membuat Liverpool mendapat kritik keras, terutama para pemain barunya yang tak bisa menutupi absennya Sturridge serta kepergian Suarez. Rodgers selaku manajer tentu jadi orang yang paling bertanggung jawab atas performa timnya.
Maka dari itu Rodgers pun berjanji akan mengembalikan keganasan The Anfield Gang secepatnya.
"Jelas kami harus lebih baik untuk yang satu itu. Penting bagi tim untuk memiliki kepercayaan diri, karena dengan itu maka Anda bisa mencetak gol," ujar Rodgers seperti dikutip situs resmi tim.
"Kami memang tidak terlihat begitu
tajam saat ini. Saya adalah pelatih yang menyukai permainan kreatif dan menyerang, dan kita sudah sering lihat selama masa kepelatihan saya, kami membangun tim yang memenangi laga dengan cara bikin banyak gol," lanjutnya.
"Tapi untuk saat ini kami agak kesulitan melakukannya. Kami hanya harus menganalisa permainan kami dan bekerja keras untuk mewujudkannya," demikian dia.
Sabtu, 10 Mei 2014
Menghidupkan Lagi Suasana Ruang Ganti Liverpool yang Sedang Lesu
Mohammad Resha Pratama - detiksport
Liverpool - Suasana ruang ganti
Liverpool sedang tak seceria pekan-
pekan sebelumnya. Akhir pekan ini
diharapkan suasana dressing room 'Si
Merah' bisa kembali riang gembira
lagi, tentu dengan hadirnya trofi
Premier League.
Hasil imbang didapat Liverpool kala
menghadapi Crystal Palace setelah
sempat unggul 3-0, mereka harus
puas dengan skor akhir 3-3. Ini
membuat The Reds harus rela dalam
posisi sulit jelang penentuan gelar
juara akhir pekan ini.
Liverpool harus memenangi laga
kontra Newcastle United sambil
berharap Manchester City kalah dari
West Ham United agar trofi juara
terbang ke Anfield, bukan Etihad
Stadium.
"Ruang ganti benar-benar lesu usai
laga itu, mungkin yang paling lesu
sejak saya bergabung ke klub ini,"
ujar gelandang Liverpool Lucas Leiva
seperti dikutip Liverpool Echo.
"Dalam tempo waktu delapan menit di
Palace Senin malam lalu, kami
kehilangan kemenangan karena
lengah," sambungnya.
"Anda bisa lihat wajah para pemain
saat menghadiri award (Liverpool
Echo) bahwa kami belum bisa bangkit
setelah laga kontra Palace. Sehari
setelahnya selalu tidak
menyenangkan."
"Sulit menjelaskan mengapa itu
terjadi. Saya melihat wawancara
manajer usai laga dan dia bilang
bahwa ia membuat beberapa
keputusan yang tidak tepat. Kami
harus belajar dari itu."
Kini Liverpool hanya bisa berharap
keajaiban itu datang akhir pekan ini
demi menghidupkan lagi peluang
mereka jadi juara. Namun fokus The
Anfield Gang saat ini hanyalah untuk
memenangi laga kontra Newcastle
dan tak memikirkan hasil lain di laga
City.
"Kami tidak akan tahu apa yang akan
terjadi hari Minggu nanti. Kami sudah
hampir dekat dan mungkin jika kami
mendapat satu-dua keberuntungan,
maka kami bisa memenanginya."
"Kami hanya harus memperbaiki dan
lihat apakah kami bisa mendapatkan
keberuntungan. Kami tahu itu akan
sulit," demikian pemain internasional
Brasil itu.
Kamis, 08 Mei 2014
Liverpool Menunggu City Alami Kepahitan Seperti Mereka di 1989
Mohammad Resha Pratama - detiksport
Liverpool - Tanggal 26 Mei 1989
mungkin merupakan sebuah hari yang
paling ingin dilupakan Liverpool dan
para pendukungnya. Mereka
berharap, akhir pekan ini Manchester
City merasakan hal serupa.
Di hari itu Liga Inggris yang masih
berformat Divisi Satu memasuki pekan
ke-38. Di pekan pamungkas itu,
hanya dua tim yang berpeluang
menjadi juara, yaitu Liverpool dan
Arsenal.
Sebelum kickoff, Liverpool ada di
puncak klasemen dengan 76 poin, dan
unggul tiga angka dari Arsenal di
peringkat kedua. Selain itu,
perbedaan mereka adalah selisih gol:
The Reds punya +39, sedangkan The
Gunners + 35.
Tahukah Anda, kedua tim tersebut
justru berduel di hari penentuan
tersebut. Benar-benar sebuah final!
Liverpool sedikit di atas angin
karena bertindak sebagai tuan
rumah.
Saat itu publik Inggris menjagokan
Liverpool untuk jadi juara mengingat
mereka begitu digdaya musim itu.
Apalagi sepekan sebelumnya mereka
baru saja menjadi juara Piala FA.
Ian Rush dkk lebih difavoritkan
karena hanya dengan hasil imbang
mereka sudah bisa membuat Arsenal
menangis di Anfield. Bahkan,
kekalahan tak lebih dari satu gol pun
sudah cukup mengantarkan Liverpool
meraih gelar juara.
Hasrat meraih dobel gelar kedua
dalam sejarah klub tersebut kian
memacu semangat Liverpool yang di
awal tahun itu, sempat tertinggal
dari Arsenal sampai 15 poin.
Arsenal sendiri menurun performanya
sejak awal tahun. Mereka kehilangan
tampuk klasemen setelah kalah dari
Derby County dan Wimbledon di
pekan-pekan terakhir, sementara
Liverpool menang atas QPR dan West
Ham.
Pertandingan "final" disaksikan oleh
41.783 penonton, yang tentu saja
sebagian besar fans Liverpool. Dan
sampai babak pertama selesai,
skenario Liverpool masih berjalan
baik, karena skor tetap 0-0.
Di menit 52, tibalah "sesuatu yang
besar" itu. Alan Smith merobek
gawang Bruce Grobbelaar. Liverpool
tertinggal 0-1, dan seketika
terancam batal jadi juara (di
kandangnya sendiri).
Menit demi menit
berlalu,
pendukung
Liverpool gelisah
bukan main. Tapi
Dewi Fortuna
benar-benar
tidak memihak
mereka. Di menit-menit terakhir
Arsenal malah mencetak gol lagi
melalui Michael Thomas. Skor
berakhir 2-0, dan Liverpool mesti
menelan pil yang sangat pahit,
sepahit-pahitnya.
Arsenal menyalip Liverpool di
pengujung musim, dan berhak
merengkuh trofi juara. Makin sial
buat Liverpool, mereka hanya kalah
produktivitas gol. Meski sama-sama
mengoleksi 76 poin, tapi Arsenal
mencetak total 73 gol, sedangkan
Liverpool hanya 65.
Kekalahan superdramatis itu kian
menambah duka bagi Liverpool yang
sebulan sebelumnya dihantam oleh
Tragedi Hillsborough, yang
menewaskan 96 pendukungnya.
Di pengujung musim ini Liverpool
dalam posisi tertinggal dari City
dalam perebutan gelar juara. Hanya
kekalahan City yang bisa memberikan
jalan bagi Steven Gerrard dkk.
menjadi juara. Itu pun dengan syarat
Liverpool juga bisa menaklukkan
Newcastle United. Sebabnya, untuk
beradu selisih gol pun Liverpool sudah
pasti kalah dari City.
"Ini belum selesai sampai semuanya
benar-benar selesai. Kadang ketika
Anda hanya butuh imbang dan bukan
kemenangan di pekan terakhir, itu
bisa berbahaya," ujar legenda
Liverpool, Ian Rush, yang ada di
lapangan ketika timnya diremukkan
Arsenal di musim 1989 itu.
"Jika kami memang harus
mengalahkan Arsenal di pekan
terakhir di musim 1989, maka
mungkin kami akan jadi juara. Hal
yang sama akan terjadi pada Man
City di hari Minggu nanti,"
sambungnya seperti dikutip Liverpool
Echo.
"Tapi yang terpenting adalah
Liverpool harus mengalahkan
Newcastle. Jika City memenangi
laga, tidak apa-apa juga. Tapi jika
mereka tidak menang dan Liverpool
juga gagal menang, maka ini benar-
benar buruk."
"Satu-satunya yang harus Liverpool
pikirkan adalah mendapatkan tiga
poin dan menuntaskan musim dengan
84 poin. Hal-hal aneh sudah pernah
terjadi dan Arsenal memanfaatkan
kesalahan kami."
City melakoni laga pamungkasnya
melawan West Ham di Etihad Stadium.
Rush mungkin berharap, The Citizens
bernasib seperti dirinya dan Liverpool
di mei 1989 itu – kalah di kandang
sendiri, dan tiba-tiba batal jadi
juara.
'Liverpool Masih Punya Harapan'
Rifqi Ardita Widianto - detiksport
Liverpool - Gagal menang lawan
Crystal Palace, peluang juara
Liverpool pun semakin kecil. Meski
demikian, 'Si Merah' diminta tetap
bersikap positif mengingat kejutan
mungkin terjadi.
Liverpool dinilai sudah kehilangan
kesempatan juara usai ditahan
imbang Palace 3-3. Meski menempati
puncak klasemen Premier League ,
tapi Manchester City bisa dengan
mudah mengambil alih mengingat tim
besutan Manuel Pellegrini punya dua
laga tersisa plus unggul selisih gol.
Anak-anak Merseyside sekarang
mengumpulkan nilai 81 dari 37 laga,
sedang City punya 80 poin dari 36
pertandingan. Tak heran jika The
Citizens dianggap punya jalan lapang
menuju gelar, apalagi melihat fakta
bahwa dua laga terakhir digelar di
Etihad Stadium.
Tapi bagaimanapun, Liverpool tetap
punya peluang. Eks penggawa The
Reds periode 1960-1978 Ian
Callaghan menilai City juga
berpeluang terpeleset di dua
pertandingan terakhirnya.
Salah satu faktor yang bisa membuat
hal tersebut terwujud adalah fakta
bahwa Yaya Toure dkk. harus
memainkan tiga laga terakhir dalam
rentang sembilan hari. Oleh karena
itu, Steven Gerrard dkk. diminta
tetap berpikiran positif sekaligus
memastikan kemenangan di partai
terakhir kontra Newcastle United.
"Kita tahu sepakbola bisa sangat
mengejutkan dan kita tahu betapa
berbagai hal bisa berubah dengan
cepat, jadi perburuan titel ini sama
sekali tidak berakhir bagaimanapun,"
kata Callaghan di situs resmi klub.
"Kami masih harus bersikap positif
dan kami masih punya satu
pertandingan untuk dijalani. Laga
malam kemarin tidaklah bagus, tentu
saja laga kontra Chelsea juga tidak,
tapi perlu diingat bahwa City harus
bermain pada Rabu malam kemudian
pada hari Minggu."
"Secara matematis kami masih bisa
melakukannya. Mereka butuh empat
angka dari dua laga tersebut dan
kami perlu memenangi laga terakhir
kami kontra Newcastle United,"
lanjutnya.
"Tekanan ada di Manchester City.
Saya menyaksikan pertandingan
mereka di Everton pada Sabtu lalu dan
itu adalah pertemuan yang penuh
kegugupan. Kami masih bisa berharap
dan kami harus tetap positif. City
bisa dengan mudah tergelincir,"
demikian Callaghan, yang memegang
rekor 640 penampilan bersama
Liverpool.
Agar 'Si Merah' Tetap Kompetitif, Rodgers Akan Perbaiki Pertahanan
Mohammad Resha Pratama - detiksport
London - Musim ini Liverpool punya
lini depan yang luar biasa okenya dan
itu jadi modal mereka bersaing di
papan atas. Tapi musim depan Brendan
Rodgers akan lebih menitikberatkan
pada sisi pertahanan demi eksistensi
'Si Merah' di sana.
Total sudah 99 gol dibuat Liverpool
musim ini dengan Luis Suarez dan
Daniel Sturridge menyumbang total
52 gol, yang membuat mereka
menempati dua posisi teratas daftar
topskorer Premier League.
Hanya berjarak empat gol lagi dari
rekor gol terbanyak sepanjang masa
Premier League yang dipunya Chelsea
dengan 103 di musim 2009/2010.
Mereka pun masih bersaing di jalur
juara bersama Manchester City
hingga pekan-pekan terakhir.
Tapi sayangnya ketajaman Liverpool
di lini depan tak dibarengi dengan
kekokohan di lini belakang di mana
gawang Simon Mignolet musim ini
sudah kebobolan 49 gol, terburuk di
antara tim penghuni tujuh besar dan
bahkan kalah dibanding Crystal
Palace, yang baru kebobolan 46 gol.
Awal pekan ini rapuhnya pertahanan
'Si Merah' sudah menipiskan lagi
peluang mereka jadi juara setelah
melepas keunggulan 3-0 atas Palace
dan harus puas dengan hasil imbang
3-3.
Liverpool memang masih ada di puncak
klasemen dengan 81 poin, tapi hanya
unggul satu poin dan kalah selisih gol
cukup jauh, yakni 9 gol, dari City.
Untuk itu Rodgers pun bertekad untuk
menuntaskan PR besarnya musim
depan di sisi pertahanan, agar
Liverpool tetap eksis di papan atas
dan bersaing memperebutkan trofi
juara.
"Kami tahu bahwa kami harus lebih
baik di sektor pertahanan," ujar
Rodgers seperti dikutip situs resmi
tim.
"Dalam banyak aspek permainan kami
lebih baik dan sektor itu
(pertahanan) adalah sektor yang
kami harus perbaiki - dan saya lah
yang bertanggung jawab untuk itu,"
sambungnya.
"99 gol yang kami cetak musim ini,
jadi bermain ke sini (Palace) dan
unggul 3-0 lalu kebobolan tiga gol,
sebagai pelatih Anda tahu apa yang
harus diperbaiki."
"Para pemain sudah memberikan
segalanya yang mereka bisa lakukan.
Tapi kami tidak bisa bertahan dengan
baik, Anda kebobolan bayak gol dan
itu sangat mengecewakan."
"Kami mencetak tiga gol dan kami bisa
mencetak lebih banyak lagi, tapi
permainan kami dalam rentang waktu
12 menit terakhir benar-benar tidak
cukup bagus. Dan itu sesuatu yang
harus saya perbaiki karena Anda
tidak bisa tampil seperti itu lagi,"
demikian dia.
Sabtu, 26 April 2014
Ian Ayre isyaratkan bakal sibuk belanja pemain
KOMPAS.com - Direktur Pelaksana
Liverpool, Ian Ayre, mengisyaratkan timnya akan
melakukan perubahan signifikan pada bursa transfer
musim panas 2014. Menurutnya, hal itu tak lepas dari
keberhasilan Liverpool memastikan diri tampil di Liga
Champions 2014-2015.
Liverpool saat ini menguasai klasemen sementara
dengan nilai 80 atau unggul sepuluh angka dari Arsenal
di peringkat keempat. Dengan begitu, mereka pasti finis
di peringkat tiga besar karena Arsenal hanya memiliki
tiga pertandingan sisa.
Ayre mengatakan, dengan kepastian tampil di Liga
Champions, Liverpool bisa menarik banyak pemain top.
Dengan bertambahnya kompetisi yang diikuti Liverpool,
lanjut Ayre, Liverpool perlu membeli pemain baru untuk
menjaga daya saing di berbagai ajang yang mereka ikuti.
"Jelas kami selalu memperkirakan bahwa skuad yang
kami butuhkan musim depan akan sangat berbeda dari
skuad yang kami butuhkan tahun ini, di mana kami tak
bermain di Eropa," ujar Ayre.
"Kami siap mengeluarkan biaya yang dibutuhkan ketika
kami memutuskan siapa yang manajer ingin datangkan.
Itu selalu ada di agenda kami. Jelas kami merancang itu
dengan ambisi masuk ke Liga Champions."
"Selalu sulit melakukan aktivitas transfer ketika Anda tak
berkompetisi di level tertinggi. Kami punya masalah soal
itu dengan Luis Suarez pada musim panas lalu karena ia
ingin bermain di kompetisi terbaik melawan pemain-
pemain terbaik. Itu selalu menjadi masalah."
"Kami selalu beruntung bisa merekrut pemain hebat,
tetapi tentu saja (keberhasilan masuk Liga Champions)
membuat beberapa pintu terbuka bagi kami dan itu
membuat ini menjadi sedikit lebih mudah," tuturnya.
Senin, 10 Juni 2013
Ayre: Liverpool masih memiliki daya tarik
"Kami masih memiliki daya tarik untuk memikat para pemain bagus ke Liverpool." ujar Ayre.
Ayre lalu menyebutkan bahwa rekrutan pada bulan Januari lalu yakni Daniel Sturridge dan Philippe Coutinho adalah bukti bahwa klub masih mampu untuk mendapatkan pemain dengan kaliber untuk sukses.
Liverpool mengakhiri musim kompetisi di urutan tujuh dan membuatnya gagal tampil di Liga Champions, sekaligus menjadi tahun ketiga absen di ajang kompetisi paling bergengsi di Eropa itu. Liverpool bahkan juga tidak ikut ambil bagian dalam Liga Europa. Hal ini membuat banyak fans khawatir bahwa Liverpool akan mendapat kesulitan dalam persaingan mendapatkan pemain.
Jumat, 26 April 2013
Liverpool Gelar Laga Testimonial Untuk Gerrard
| Steven Gerrard
Bola.net - Liverpool mengumumkan akan menggelar sebuah partai testimonial untuk menghormati loyalitas kapten mereka saat ini Steven Gerrard. Laga itu sendiri akan dipentaskan di Anfield pada 3 Agustus mendatang.
Lawan yang dipilih juga terbilang spesial, yakni Olympiakos. Klub Yunani itu dipilih bukan tanpa alasan. Gerrard pernah mencetak gol spektakuler ke gawang Olympiakos pada babak knockout Liga Champions musim 2004/2005, di mana mereka menjadi juara.
"Saya merasa terhormat atas rencana pertandingan ini. Saya juga senang Olympiakos menerima ajakan saya untuk menjadi lawan tanding di laga ini," ujar sang kapten di situs resmi klub.
"Pertemuan terakhir kami merupakan pengalaman yang indah bagi saya pribadi maupun klub," lanjutnya.
Uang hasil penjualan tiket dari pertandingan ini sebagian akan disumbangkan kepada remaja berkebutuhan khusus melalui yayasan milik Stevie G, The Steven Gerrard Foundation. Olympiakos sendiri memilih menyumbangkan uangnya ke yayasan amal lokal di Yunani. (lfc/pra)
Kamis, 25 April 2013
Suarez Kecewakan Chelsea dan Benitez
Dalam lanjutan kompetisi Premier League 2012/13 di Anfield, Minggu (21/4), yang juga menandai kembalinya Rafael Benitez ke rumah lamanya, Chelsea dua kali unggul lewat Oscar dan penalti Eden Hazard. Namun, Liverpool membalas lewat gol pemain pengganti Daniel Sturridge dan aksi Suarez di penghujung laga.
Liverpool, yang tak pernah kalah dari Chelsea dalam lima bentrokan terakhir sebelum ini, sukses meneruskan catatan positif tersebut sekaligus mengumpulkan total 51 poin di peringkat tujuh klasemen sementara. The Blues gagal meraup poin penuh, tapi masih bertengger di tangga ke-4 dengan keunggulan satu poin atas Tottenham.
Perhatian utama mau tak mau tertuju pada Suarez. Striker Liverpool itu melakukan segalanya dalam laga ini. Dia merancang satu assist, menjadi penyebab penalti, menciptakan kontroversi dengan menggigit Branislav Ivanovic di babak kedua, dan menyelamatkan Liverpool dari kekalahan.
Laga ini sendiri berjalan cukup sengit. Liverpool unggul penguasaan bola maupun jumlah tembakan, tapi Chelsea lebih efektif dalam memaksimalkan peluang.
Chelsea menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0 lewat sundulan Oscar memanfaatkan corner Juan Mata pada menit 26.
Akan tetapi, keunggulan pasukan Benitez musnah pada menit 52 oleh mantan pemain mereka sendiri, yakni Sturridge, yang sukses menuntaskan assist Suarez hanya tujuh menit sejak masuk menggantikan Philippe Coutinho di awal babak kedua.
Suarez, yang tidak mencetak gol dalam empat penampilan terakhirnya, berniat mengakhiri kekeringan itu di laga ini. Namun, bukan gol yang dia dapat, melainkan justru menjadi penyebab penalti untuk timnya akibat handball di area terlarang pada menit 57. Hazard yang bertidak sebagai algojo berhasil menaklukkan Pepe Reina di bawah mistar.
Kesulitan menembus barisan pertahanan Chelsea yang dikawal David Luiz dan Ivanovic, Brendan Rodgers pun memasukkan Jonjo Shelvey untuk menggantikan Stewart Downing sepuluh menit jelang bubaran. Shelvey nyaris saja menyamakan kedudukan dengan tembakan pertamanya, tapi masih melebar di samping gawang Petr Cech.
Ketika laga memasuki menit terakhir injury time, Chelsea sepertinya bakal pulang dengan tiga angka. Namun, semua belum berakhir selama peluit panjang belum dibunyikan. Suarez membuktikannya. Striker Uruguay itu menyundul masuk crossing Sturridge, membatalkan kemenangan Chelsea, dan membuat Anfield bergemuruh dengan last action dalam laga tersebut.
Suarez sukses mengakhiri puasa golnya, meneruskan catatan manis Liverpool atas Chelsea, dan menandai kembalinya Benitez ke Anfield dengan kekecewaan.
Suarez kini mengoleksi 23 gol di puncak daftar top scorer sementara Premier League dengan keunggulan dua atas Robin van Persie dan lima atas Gareth Bale. Namun, gigitannya terhadap Ivanovic di babak kedua yang luput dari pengamatan wasit Kevin Friend sepertinya bakal berbuntut panjang.
Sementara itu, Fernando Torres terpaksa harus mencari gol liga pertamanya di tahun 2013 pada lain kesempatan.
Susunan pemain Liverpool: Reina, Johnson, Agger, Carragher (kuning 64'), Enrique; Lucas (kuning 54'), Gerrard, Henderson (kuning 29'); Downing (Shelvey 80'), Coutinho (Sturridge 46'), Suarez (kuning 56').
Cadangan: Jones, Skrtel, Coates, Shelvey, Coady, Assaidi, Sturridge.
Susunan pemain Chelsea: Cech, Azpilicueta (kuning 53'), Ivanovic, Luiz, Bertrand, Ramires, Mikel, Hazard (Benayoun 78'), Mata (Lampard 90'), Oscar (Moses 83'), Torres (kuning 37').
Cadangan: Turnbull, Ferreira, Terry, Lampard, Benayoun, Moses, Ba.
Statistik Liverpool - Chelsea (via WhoScored)
Shots: 21 - 11
Shots on goal: 8 - 5
Penguasaan bola: 57% - 43%
Pelanggaran: 9 - 13
Corner: 8 - 5
Offside: 1 - 1
Kartu kuning: 5 - 2
Kartu merah: 0 - 0. (bola/gia)
Jumat, 15 Maret 2013
Liverpool Buru 3-4 Pemain Lagi, Siapa Saja?
Anang Fajar Irawan - Okezone
Rabu, 13 Maret 2013 13:12 wib
Liverpool FC, Berniat Membeli 3-4 Pemain Lagi (Foto: ist)
Target yang dimaksud adalah kini klub besutan Brendan Rodgers tersebut ingin mengembalikan kejayaan klub di masa lalu dengan menguasai sepakbola Inggris, bahkan Eropa..
Liverpool memang sudah lama tidak merajai kancah sepakbola dunia. Klub yang bermarkas di Anfield ini terakhir menjadi jawara Liga Inggris pada tahun 1989, dan juara Eropa terakhir mereka rengkuh tahun 2005.
Tak ingin hanya menjadi sejarah klub, Rodgers, sebagai pelatih merasa memiliki tanggung jawab untuk membawa Liverpool bersaing di level tertinggi sepakbola.
Guna merealisasikan rencana tersebut, dikabarkan Daily Mail, Rabu (13/3/2013), Liverpool kini berniat mendatangkan tiga sampai empat orang pemain lain lagi untuk memperkuat pasukannya.
Keempat pemain incaran Liverpool antara lain bek muda Feyenoord, Stefan De Vrij, Kapten Swansea City, Ashley Williams, winger muda Blackpool, Tom Ince, dan penyerang asal klub Paris Saint Germain, Kevin Gameiro.
Selain empat pemain di atas, nama Pemain Newcastle United, Hatem Ben Arfa juga masuk daftar buruan, meskipun namanya tidak terlalu erat dikaitkan dengan Liverpool.
“Saya senang dengan skuad yang ada, tapi saya akan lebih senang lagi bila saya mampu mendapatkan tiga atau empat pemain lagi yang berkualitas. Yang saya inginkan tidak hanya kuantitas, tapi juga kualitas,” ucap Rodgers.
“Bila kami dapat membawa tiga atau empat pemain yang berkualitas, hal tersebut tentu akan menjadikan tim lebih kuat,” lanjutnya.
Rabu, 05 September 2012
Laporan dari Liverpool
- Oleh: Mohammad Resha Pratama - detikTravel
- Rabu, 05/09/2012 17:14 WIB
- Komentar: 0
Tak seperti kebanyakan klub besar di Inggris yang mempunyai stadion megah, berukuran besar, yang terletak di tengah atau pinggiran kota. Anfield berada di daerah pemukiman penduduk lokal. Stadion bergaya 'old fashion' itu berdiri megah di tengah pemukiman penduduk, menyimpan beragam benda bersejarah seputar klub Liverpool FC, juga suporter fanatiknya.
Jika Anda traveling ke Liverpool, Inggris, lihatlah betapa deretan rumah dan restoran-restoran kecil mengelilingi Anfield. Maka tak heran wacana untuk perluasan stadion selalu ditentang karena sama dengan menggusur warga di sekitarnya.
Di sebelah Shankly Gate, atau tepatnya di belakang area pakir, ada sebuah tanah kosong luas yang disebut Stanley Park, yang rencananya akan jadi kandang baru bagi 'Si Merah'.
Jika melihatnya dari layar televisi, para pecinta sepakbola mungkin tahu bahwa Anfield relatif bergaya kuno dan memang seperti itulah adanya. Meski dimiliki oleh salah satu klub terbaik di Inggris, namun harus diakui dari segi infrastruktur atau arsitektur Anfield masih kalah dari Emirates Stadium punya Arsenal, Etihad Stadium milik Manchester City, Old Trafford kandangnya Manchester United, atau bahkan Stamford Bridge rumahnya Chelsea.
Meski jadi salah satu stadion angker dan terkenal di dunia, Anfield memang sudah lama tak merias wajahnya. Diawali dengan ukuran press room yang kecil untuk ukuran klub besar, yang tentunya akan terasa penuh jika awak media bertatap dengan muka dengan Brendan Rodgers dan para pemain usai pertandingan.
Namun, tetap saja memasuki Anfield boleh jadi sudah membuat Anda merasa seperti pemain Liverpool yang akan bertanding serta berjibaku di atas lapangan. Menyusuri lorong dan kemudian memasuki locker room untuk persiapan pertandingan.
Locker Room bersejarah itu pun masih saja terasa kuno karena bangku para pemain masih terbuat dari kayu. Baju pemain hanya digantung berdasarkan urutan posisi si pemain, mulai dari kiper hingga penyerang.
Di tengah-tengah ada dua meja tempat para tukang pijat melakukan tugasnya untuk meregangkan otot para pemain atau merawat pemain yang cedera. Ada juga kamar mandi dan satu pintu baru yang merupakan tempat manajer meramu taktik dan sebagainya. Kamar taktik ini baru dibangun pada masa Rafael Benitez menukangi tim di tahun 2004 hingga 2010.
Kurang afdol rasanya jika ke Anfield tak menyentuh tanda terkenal di atas lorong menuju ruang pemain yang bertuliskan: This Is Anfield. Tanda itu adalah permintaan dari manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly, yang bertujuan untuk mengintimidasi lawan dan menunjukkan bahwa tak akan mudah menaklukkan Liverpool di markasnya.
Salah satu keunikan Anfield dibanding stadion lain di Inggris adalah bangku cadangan tim tuan rumah dan tim tamu yang berdekatan di dalam satu tempat. Jika biasanya bangku cadangan home dan away terpisah, maka di Anfield tim tamu akan diajak merasakan euforia serta atmosfer dari stadion itu yang bertujuan tentunya untuk memberi sedikit tekanan pada lawan.
Apa lagi yang menarik dari Anfield? Tentu saja tribun legendaris yang biasa disebut The Kop, tempat para "penguasa" stadion berada dan selalu menyanyikan chant atau yel-yel yang membuat merinding kawan maupun lawan.
Tapi sayang, Anfield seperti sedang kehilangan keangkeran serta daya magisnya sejak setahun terakhir ini. Liverpool kerap kesulitan di kandang sendiri dan berujung pada memburuknya performa tim yang membuat mereka hanya finish di posisi ke delapan musim lalu.
Jumat, 06 Juli 2012
Tristan Alif Naufal, Antara Barca dan Liverpool
Bocah berusia 7 tahun tersebut memang menjadi buah bibir pada beberapa hari terakhir. Disebut-sebut sebagai titisan Lionel Messi, Tristan berhasil menuai pujian dari publik bola dan berharap Tristan mampu menjadi bintang di masa depan.
Namun tampaknya bukan Barcelona FC yang akan menjadi pelabuhan bocah ajaib tersebut. Menjadi murid di Liverpool Academy Indonesia, Tristan diproyeksikan untuk terbang ke Inggris untuk mengikuti trial di Liverpool ketika berusia 10 tahun.
"Alif kami proyeksikan untuk mengikuti trial di Inggris ketika berusia 10 tahun, karena saat ini dia baru berusia 7 tahun. Kami akan terus memantau perkembangannya,” terang Humas Liverpool Academy Indonesia, Qatrunnada Salma.
"Banyak program yang akan dijalani Alif. Dia saat ini sedang belajar bahasa Inggris dan kami juga terus memantau kondisi fisik serta gizi Alif,” tambahnya.
Sebelumnya Tristan yang memperlihatkan aksinya di depan mantan pelatih Barca, Pep Guardiola berhasil memikat hati sang pelatih. Bahkan dirinya menyarankan agar Barca segera mengajukan tawaran untuk merekrut Tristan. Namun tampaknya, pihak Liverpool Academy Indonesia tak ingin kehilangan permatanya tersebut dan 'mengikatnya' hingga Tristan siap untuk terbang ke Inggris ketika usianya siap. (sdm/dzi)
Minggu, 03 Juni 2012
Liverpool Isyaratkan Akan Hengkang Dari Anfield
Dewan kota sudah memberikan ultimatum kepada Liverpool untuk segera memutuskan apakah akan bertahan di Anfield atau hijrah membangun stadion baru di dekat Stanley Park akhir Juni mendatang. Namun meski diancam dengan ultimatum, Ayre merasa jika pihak klub tidak perlu mengambil keputusan terburu-buru.
"Tidak ada situasi yang berubah," ucap Ayre kepada Liverpool Echo. "Kami sudah berbicara dengan penduduk lokal, dan juga bersama dewan kota. Tetapi itu semua bagian dari upaya pengembangan kota yang tengah dilakukan oleh dewan kota."
"Apakah itu berarti jika kami bertahan di Anfield? Tidak, segalanya masih belum pasti. Saat ini kami masih belum bisa memberikan kepastian," pungkasnya.
Pemilik Liverpool sebelumnya, Tom Hicks dan George Gillett pernah menjanjikan akan mengembangkan stadion Anfield. Seperti dalam kampanye mereka yang terkenal "spades in the ground within 60 days" duo Amerika ini berjanji akan membangun Stadion New Anfield, namun rencana itu tidak pernah terwujud hingga mereka menjual The Reds kepada John W. Henry. (le/mac)
Mourinhho: Rodgers Pilihan Tepat untuk Liverpool
Rodgers akhirnya dipilih manajemen Liverpool untuk menggantikan posisi Kenny Dalglish yang dipecat menyusul penampilan buruk tim di Liga Inggris. Rodgers yang kini memanajeri Swansea mengalahkan kandidat kuat lainnya, Roberto Martinez dan juga Andre Villas-Boas.
Mungkin banyak yang menanyakan keputusan Liverpool menunjuk Rodgers, pria yang baru musim ini berkiprah di kompetisi seketat Premier League. Apalagi Liverpool adalah klub besar yang tengah "tertidur" dan butuh tangan dingin seseorang yang mampu mengembalikan kejayaann mereka.
Tapi bagi Mourinho, Rodgers dinilai sebagai sosok yang tepat berada di kursi manajer 'Si Merah'. Pelatih Real Madrid itu menyanjung tinggi kemampuan manajerial pria 39 tahun itu dan berani bertaruh jika Rodgers bisa membawa hasil-hasil positif untuk Liverpool.
"Aku sangat senang dengan penunjukkannya sebagai manajer Liverpool, karena ini adalah buah kerja kerasnya yang luar biasa bersama Swansea," tukas Mourinho di AS.
Penilaian Mourinho ini tentunya bukan tanpa alasan mengingat keduanya pernah bekerja sama saat Mourinho menangani Chelsea musimm 2004 hingga 2007. Saat itu Rodgers berstatus sebagai pelatih tim muda Chelsea dan banyak belajar dari Mourinho.
Bahkan Rodgers pernah berkata jika kerja bareng Mourinho bagaikan menimba ilmu di universitas ternama dunia, Harvard.
"Brendan adalah pria yang baik, penyayang keluarga dan temannya," sambungnya.
"Ketika dia bergabung bersama kami di Chelsea, dia adalah pelatih muda dengan hasrat besar untuk selalu belajar."
"Namun dia juga adalah pelatih dengan segudang ide, yang tidak hanya mau mendengarkan tapi juga berkomunikasi dan berbagi," pungkas Mourinho.
( mrp / krs )
Ini Alasan Liverpool Memilih Rodgers
Direktur Liverpool, Tom Werner, memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan Rodgers kepada media. Dia menggarisbawahi sejumlah kualitas Rodgers yang membuat "The Reds" akhirnya memilih Rodgers.
"Dia adalah pelatih yang berpikiran jauh ke depan di barisan depan manajer generasi baru, dan dia akan membawa gaya permainan menyerang tanpa henti untuk Liverpool," ungkapnya seperti dilansir Soccernet.
"Saya yakin para suporter akan segera menerima Rodgers dengan hangat berdasarkan prinsip menyerangnya. Dia adalah pria yang sangat cerdas dan dedikasinya untuk perbaikan dan komitmen untuk melatih membuat kami terkesan," tambahnya kemudian.
Werner juga menegaskan bahwa Rodgers merupakan satu-satunya kandidat yang ditawari oleh Fenway Sports Group (FSG), pemilik Liverpool, untuk menjadi pelatih baru. Penegasan ini sekaligus menampik rumor bahwa FSG juga memberikan penawaran kepada Pelatih Wigan Athletic, Roberto Martinez.
"Brendan hanya satu-satunya manajer yang kami tawari. Dia adalah pilihan pertama kami dan pilihan terbaik kami," tegas Werner.
Sosok pelatih berusia 39 tahun ini mendapat reaksi negatif dari sejumlah pemain. Kiper Liverpool, Pepe Reina, malah menginginkan mantan Pelatih Liverpool, Rafael Benitez, kembali melatih tim.
Sabtu, 02 Juni 2012
Gerrard: Rodgers Memang Target Utama Liverpool
Hal tersebut merupakan kejutan, mengingat media-media Inggris sempat gencar memberitakan bahwa Pelatih Wigan Athletic, Roberto Martinez, sudah bernegosiasi dengan pemilik Liverpool, John Henry, dan kepastian kerja sama hanya tinggal menunggu pengumuman resmi.
Selain itu, Liverpool juga disebut mempertimbangkan bernegosiasi dengan Rafael Benitez. Namun, menurut Steven Gerrard, Rodgers sejak awal merupakan pilihan utama Liverpool.
"Apa yang bisa aku katakan adalah Brendan merupakan pilihan pertama. Aku terus mengikuti perkembangan (pencarian pengganti Dalglish) selama beberapa pekan terakhir dengan pemilik dan direksi Liverpool, dan Brendan Rodgers adalah pilihan pertama," aku Gerrard.
Sebelum menerima lamaran Liverpool, Rodgers melatih Swansea City selama dua musim (2010-2012). Pada musim pertamanya, ia membawa Swansea promosi, dan pada musim kedua berhasil membuat Swansea finis di peringkat ke-11 dan dengan begitu tetap berkompetisi di Premier League.
Reina: Harusnya Liverpool Pilih Benitez
Pepe Reina adalah salah satu sosok yang menganggap ada pelatih lain yang lebih pantas daripada Rodgers. Kiper Spanyol tersebut lebih memilih Rafael Benitez. Pilihan ini berdasarkan apa yang telah dialami oleh Reina selama dilatih oleh Benitez.
"Bagi banyak rekan saya dan saya sendiri, Rafael Benitez akan menjadi kandidat yang ideal," ujar kiper The Reds tersebut.
"Bukan karena saya tidak bersikap objektif namun dia adalah seorang pelatih yang telah membuat saya dapat menunjukkan kemampuan terbaik saya."
"Dia adalah yang terbaik."
Benitez sendiri memang sempat melatih Liverpool. Ia keluar dari The Reds setelah gagal memberikan prestasi bagi klubnya pada musim 2009-10. Saat itu Liverpool tersingkir lebih awal di Liga Champions dan hanya mencapai posisi ketujuh di Liga Premier. (sw/Rev)
Henry: Rodgers Adalah Sosok Sempurna Bagi Liverpool
"Filosofi sepak bola komprehensif Brendan sempurna dan selaras dengan yang ada di klub dan hal itu akan segera berpadu dengan klub," ucap Henry membuka komentarnya.
"Ia adalah pilihan pertama dengan suara bulat di antara mereka calon-calon yang ada, dan ia tidak ragu-ragu sama sekali dalam menganut apa yang ingin kami bangun di Liverpool."
Klub Merseyside ini terakhir kali memenangi gelar Liga Inggris ke-18 mereka pada 1990, dan Henry menambahkan, "Kami tidak berharap terjadi keajaiban dalam semalam maupun hal-hal lain."
"Namun kami sangat yakin bahwa arah klub ini pada akhirnya akan membuat kami memimpin kejuaraan Liga Utama," pungkas pemilik asal Amerika Serikat tersebut. (afp/lex)
Rodgers Tepis Anggapan 'Terlalu Hijau' untuk Tangani Liverpool
Dalam beberapa hari terakhir nama Rodgers tiba-tiba menyeruak sebagai kandidat kuat menjadi manajer baru Liverpool. Pada prosesnya ia benar-benar didapuk sebagai manajer Liverpool.
Tak sedikit yang mengernyitkan kening dengan penunjukan tersebut, mengingat Rodgers relatif belum punya nama jika dibandingkan dengan kandidat lain, misalnya Rafael Benitez atau Andre Villas-Boas.
Pria 39 tahun kelahiran Irlandia Utara itu diragukan sudah memiliki pengalaman dan kemampuan cukup menangani klub raksasa seperti Liverpool karena sebelumnya baru menangani klub seperti Watford (2008-09), Reading (2009), dan Swansea City (2010-12).
Akan tetapi, Rodgers membantah mentah-mentah kalau dirinya dicap "terlalu hijau". Ia menyebut dirinya pun sudah lama malang-melintang menimba ilmu dan pengalaman, termasuk dengan menjadi manajer tim yunior Chelsea di bawah Jose Mourinho pada tahun 2004.
"Jalan yang saya tempuh sebagai seorang pelatih muda memang berbeda dari kebanyakan manajer. Saya sebenarnya sudah mulai melatih dan bekerja di sepakbola selama 20 tahun," kata Rodgers di Sportinglife.
"Di Chelsea saya mendapatkan pengalaman bekerja sama dengan pemain-pemain bernama besar. Saya melihat Kenny Dalglish, ia menjadi manajer (Liverpool di tahun 1985) pada usia 34 tahun dan mundur di usia 39 tahun. Saya tiba di sini pada usia 39 tahun," lugasnya.
( krs / a2s )