LIVERPOOL, KOMPAS.com — Manajer
Liverpool Kenny Dalglish mengatakan akan
mengambil sebagian waktu sesi latihan untuk
bersama pasukannya menyaksikan rekaman
pertandingan mereka melawan West Ham
United dalam lanjutan Premier League,
Minggu (27/2/2011).
Pada laga itu, Liverpool menyerah 1-3. Itu adalah kekalahan
pertama mereka dalam sembilan pertandingan terakhir. Kenny
mengatakan, setelah melihat pertandingan, ia akan menggelar
sesi latihan sepekan penuh untuk memperbaiki diri.
"Kami akan duduk dan para pemain bisa menyimak pertandingan
secara utuh dan memastikan kami belajar dari kesalahan yang
kami buat," ujar Dalglish.
"Kami akan melihat pada bagian mana kami melakukan kesalahan
dan akan berusaha memperbaikinya."
"Secara kolektif, kami akan maju. Namun, bukan mustahil
(kesalahan kembali terjadi). Kami akan bangkit dan latihan sepekan
tak akan merusak kami," tuturnya.
Selain itu, Dalglish juga mengonfirmasi bahwa bek Martin Kelly
mendapat cedera otot paha pada pertandingan versus Fulham itu
dan akan absen selama sebulan. (SUN)
Penulis: Tjatur Wiharyo Editor: Tjatur Wiharyo
Rabu, 02 Maret 2011
Selasa, 01 Maret 2011
LIVERPOOL DEFENDER KELLY OUT FOR MONTH
Liverpool defender Martin Kelly will
miss a month of football after tearing
a hamstring in Sunday's 3-1 loss at
West Ham.
Liverpool's head of sports medicine Dr
Peter Brukner confirmed the 20-year-
old would face four weeks on the
sidelines because of the injury.
Kelly was charging down the flank
Upton Park during the first half of the
English Premier League encounter
when he pulled up abruptly clutching
his thigh, and the youngster had to be
replaced by Joe Cole.
Kelly told The Liverpool Echo he was disappointed by the blow,
but was confident of a quick return to the first team.
"I took Scott Parker on down the right and when I took my last
touch I felt a pull in my hamstring and there was no way I could
carry on," he said.
"I'm usually a quick healer and we have good medical staff at the
club so hopefully I will be back soon."
He will miss Sunday's tussle with Manchester United at Anfield,
the Europa League last-16 match against Braga and the league
game at Sunderland on March 20.
1 March 2011 15:29
miss a month of football after tearing
a hamstring in Sunday's 3-1 loss at
West Ham.
Liverpool's head of sports medicine Dr
Peter Brukner confirmed the 20-year-
old would face four weeks on the
sidelines because of the injury.
Kelly was charging down the flank
Upton Park during the first half of the
English Premier League encounter
when he pulled up abruptly clutching
his thigh, and the youngster had to be
replaced by Joe Cole.
Kelly told The Liverpool Echo he was disappointed by the blow,
but was confident of a quick return to the first team.
"I took Scott Parker on down the right and when I took my last
touch I felt a pull in my hamstring and there was no way I could
carry on," he said.
"I'm usually a quick healer and we have good medical staff at the
club so hopefully I will be back soon."
He will miss Sunday's tussle with Manchester United at Anfield,
the Europa League last-16 match against Braga and the league
game at Sunderland on March 20.
1 March 2011 15:29
Bila MU Bertemu Liverpool

Catatan Sepakbola
Bila MU Bertemu Liverpool
LY Arifin : Sepakbola
detikcom - London,
Suatu saat sekitar
bulan November
1959 Bill Shankly
yang menjadi pelatih
di Huddersfield
didatangi dua petinggi
dari Liverpool. Terjadi
percakapan yang
cuplikannya kira-kira
seperti ini:
"Tidakkah Anda berminat menjadi pelatih di klub terbaik Inggris?"
tanya salah satu dari kedua petinggi Liverpool itu.
"Mengapa? Apakah Matt Busby mengundurkan diri?’" Shankly balas
bertanya.
Kita tahu apa yang ada di benak Shankly, karena Matt Busby
sedang berproses menjadi pelatih legendaris Manchester United
dan klub itu sedang merajai dunia persepakbolaan Inggris.
Sedangkan Liverpool saat itu sudah cukup bergembira duduk di
papan tengah divisi dua versi lama Liga Inggris.
Ini sekadar ilustrasi bahwa sebenarnya persaingan paling sengit di
antara kedua tim tersebut belumlah terlalu lama. Kalau dihitung
sejak Shankly memegang Liverpool tahun 1959, maka persaingan
sengit MU dan Liverpool baru berlangsung 50 tahun. Jauh lebih
muda dari persaingan sengit antara Liverpool dan Everton yang
sudah ada sejak 50 tahun sebelumnya, atau Manchester United
dan Manchester City, atau Arsenal dan Tottenham sejak tahun
1930-an, serta Chelsea dan Fulham ataupun Burnley dan
Blackburn.
Shankly mengagumi pemain-pemain MU maupun klub itu, tetapi
pada saat bersamaan mempunyai tekad membara untuk
menggoyang hirarki persepakbolaan Inggris. Membawa Liverpool
kembali ke puncak persepakbolaan Inggris. Dialah yang
sesungguhnya memantik persaingan sengit antara kedua klub
raksasa Inggris ini.
Shankly yang prestasinya biasa-biasa saja sebelum memegang
Liverpool, hanya dalam waktu lima tahun membawa Liverpool
dari klub papan tengah divisi dua menjadi juara divisi satu
menyingkirkan MU maupun -- yang lebih penting lagi sebenarnya
-- musuh bebuyutan satu kota sekaligus juara bertahan, Everton.
Dua tahun kemudian di tahun 1966 ia mengulangi prestasi itu.
Tahun 1965 ia membawa Liverpool menjuarai Piala FA untuk
pertama kalinya.
Shankly tidak lagi membawa Liverpool menjadi juara divisi satu
hingga tahun 1973. Namun dalam proses kebangkitan Liverpool ia
menanamkan rasa percaya diri yang luar biasa bahwa Liverpool
tidak kalah besar dengan klub lain. Bahwa bermain untuk Liverpool
adalah sebuah kehormatan. Dan andaipun Liverpool tidak menjadi
juara, sangat penting untuk mengalahkan mereka yang dianggap
terbesar dan tersukses, bagaimanapun caranya, bermain habis-
habisan seolah mati hidup tergantung pada pertandingan itu.
Shankly dengan sengaja menjadikan MU sebagai sasaran. Apalagi
ketika mereka di tahun 1968 menjadi klub Inggris pertama yang
memenangi Piala Champions. Boleh saja MU waktu itu
menganggap dirinya klub tersukses, tetapi bertemu Liverpool
mereka tahu reputasi itu tak ada artinya. Pertandingan akan
berlangsung seperti pertempuran habis-habisan.
Adalah "kehendak" sejarah bahwa di tahun 1970-an MU dan
Liverpool bertukar posisi. Ketika revolusi yang diawali oleh Shankly
diteruskan Bob Paisley dan kemudian Joe Fagan – dua asisten
pelatih Shankly -- membuat Liverpool bukan saja raja Inggris tetapi
juga Eropa, nasib MU terpuruk-puruk bahkan sempat terdegradasi
ke divisi dua di tahun 1975. Namun perseteruan antara kedua klub
sudah terlanjur mapan dan tidak mengendor untuk tidak dikatakan
malah makin sengit. Liverpool ganti menjadi klub paling sukses di
Inggris tetapi mereka tahu melawan MU adalah persoalan berbeda.
MU akan menjadi “Setan Merah” yang sesungguhnya dan
Liverpool harus bersiaga tanpa henti.
Sejak pertengahan tahun 60-an itulah pertarungan MU melawan
Liverpool menjadi salah satu pertandingan paling sengit dan paling
ditunggu publik Inggris, seolah lepas dari konteks keseluruhan
kompetisi liga. Kedua klub seperti bertekad, kalaulah tidak menjadi
juara maka yang lebih utama bagi MU adalah mengalahkan
Liverpool, begitupun sebaliknya.
Kedua klub saling mengukur pencapaian prestasi mereka dari apa
yang sudah diraih oleh keduanya. Ingatkah Anda ketika Alex
Ferguson untuk pertama kalinya datang ke MU lebih 20 tahun
silam? Ketika ditanya wartawan salah satu target utamanya
menjadi pelatih di Old Trafford, Ferguson tanpa sungkan
menjawab: "Menendang Liverpool dari puncak hirarki sepakbola
Inggris."
Seperti Shankly di Liverpool, Ferguson melakukan revolusi di MU.
Bedanya, Ferguson bukan sekadar memulai revolusi tetapi juga
menjaga revolusi itu untuk tidak padam. Ia masih saja menjadi
pelatih hingga kini. Ia memegang janjinya untuk menendang
Liverpool dari puncak hirarki sepakbola Inggris. Entah untuk berapa
lama lagi.
Kedua klub akan bertemu lagi akhir pekan ini. Kedua pendukung
klub akan membawa panji-panji prestasi mereka masing-masing:
kami lebih banyak memenangkan Piala Eropa dari kalian, Piala FA
kami lebih banyak, prestasi kami lebih bergengsi dan lain
sebagainya. Tetapi di hati kecil mereka semuanya tahu, catatan
prestasi itu tak lebih dekorasi semata. Yang lebih penting adalah
apa yang terjadi selama 90 menit di lapangan.
Pertemuan antara kedua kesebelasan ini ,apapun nama
kompetisinya, hanya mempunyai satu konteks: selama 90 menit
mana yang lebih hebat, klubmu atau klubku. Peduli amat dengan
kompetisi liga, Piala FA, Piala Liga, ataupun Liga Champions.
Atau ... ya kami peduli, tapi itu urusan nanti.
==
*) Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.
Ketika Wozniacki Berbaju Gerrard

Jumat, 25/02/2011 09:29 WIB detikcom - Jakarta,
Petenis nomor satu
dunia nan cantik,
Caroline Wozniacki,
membuat sebuah
sensasi di turnamen
Qatar Terbuka yang
sedang berlangsung
di Doha, ketika ia
turun ke lapangan
dengan berbaju
Steven Gerrard.
Menjelang pertandingannya di babak perempatfinal melawan Flavia
Pennetta, Kamis (24/2/2011), Wozniacki melakukan pemanasan
dengan memakai replika jersey klub Liverpool, bernomor delapan,
bertuliskan Gerrard.
Setelah memberi hiburan sejenak buat penonton dan juru foto/
kamera, ia mencopot baju Gerard tersebut dengan pakaian
bertanding, dan di akhir laga berhasil menundukkan Pennetta
dengan skor 6-2 6-0.
Gerangan apa petenis Denmark itu mengenakan jersey Liverpool,
ia mengaku memang fans berat klub top Inggris itu. Apalagi ia
sempat menyaksikan secara langsung duel tim favoritnya itu
melawan Chelsea di Anfield pada November lalu, ketika Gerrard
dkk menang 2-0.
Sehabis menonton big match itu Wozniacki mengatakan
"Atmosfer yang luar biasa di Anfield! Hasilnya juga sangat bagus.
Aku penggemar berat Liverpol. Aku menonton hampir setiap
pertandingan mereka karena aku sangat suka sepakbola. Dan kalau
ada waktu kosong, aku selalu nonton pertandingan Liverpool."
Nah, dari pernyataannya itu Wozniacki mendapat banyak
pertanyaan dari suporternya. Maka dia pun mulai berencana
menunjukkan kesenangannya pada Liverpool tersebut, dan Qatar
dia pilih sebagai tempatnya.
"Dapat komentar banyak sekali soal jersey Liverpool dan masuk ke
lapangan dengan mengenakannya. Jadi, kenapa tidak? Haha.."
demikian Wozniacki menjelaskan perihal "Gerrard"-nya itu melalui
akun twitter-nya @carowozniacki.
steven gerrard

Steven Gerrard (Gelandang/Liverpool)
Steven Gerrard 30 Mei 1980. Ia adalah kapten sekaligus ikon
Liverpool. Lahir di Whiston, Merseyside, ia adalah produk asli
Liverpool. Ia memulai berkiprah di Liverpool senior pada 1997.
Sejak 2003, ia menjabat kapten dan pemain yang tak tergantikan.
Di tangan pelatih Inggris Fabio Capello, ia diandalkan untuk
menyuplai bola ke Rooney. Capello kini juga kian apik mengasah
kemampuannya. Kini ia tidak lagi bersaing dengan Frank Lampard
seperti di tangan pelatih-pelatih Inggris sebelumnya.
Ingin Latih Liverpool

Ingin Latih Liverpool
Jamie Carragher memiliki impian melatih Liverpool di masa
mendatang. Kecintaannya terhadap klub asal Merseyside itu
menjadi alasan Carra berniat menahkodai The Reds. Defender
veteran itu pun menyatakan kesiapannya belajar dari sang
manajer, Kenny Dalglish, untuk menjadi seorang juru taktik
Carragher Ingin Menjadi Pelatih Liverpool
Carragher bermimpi menjadi pelatih Liverpool suatu saat
nanti.
Oleh Tegar Paramartha
28 Feb 2011 14:53:00
Bek Liverpool Jamie Carragher menyadari bahwa karirnya sebagai
seorang pemain akan segera habis seiring dengan bertambahnya
usianya.
Bagaimanapun juga, Carra masih merasa dirinya dapat
memberikan lebih kepada Liverpool dan tidak menyangkal dia
ingin menjadi pelatih Liverpool saat karirnya sebagai pemain
sudah berakhir.
"Itu adalah hal yang harus dilihat dalam beberapa tahun ke depan,"
ujar Carragher kepada liverpoolfc.tv.
"Saya akan mengambil kursus kepelatihan dan jika kesempatan itu
datang maka saya akan sangat senang, tetapi saya tidak ingin
merugikan orang lain."
"Saya telah bermain untuk Liverpool selama hidup saya dan akan
menjadi sebuah mimpi saya tetap melakukannya setelah saya
pensiun bermain. Jika saya dapat belajar seperti Kenny Dalglish
dan pengalamannya, semua akan menjadi lebih baik."
"Sekali berhenti bermain, Anda mulai dari awal lagi jadi tidak ada
tempat terbaik untuk belajar dan tidak ada orang yang paling baik
untuk saya pelajari, daripada di sini," pungkas Carragher.
nanti.
Oleh Tegar Paramartha
28 Feb 2011 14:53:00
Bek Liverpool Jamie Carragher menyadari bahwa karirnya sebagai
seorang pemain akan segera habis seiring dengan bertambahnya
usianya.
Bagaimanapun juga, Carra masih merasa dirinya dapat
memberikan lebih kepada Liverpool dan tidak menyangkal dia
ingin menjadi pelatih Liverpool saat karirnya sebagai pemain
sudah berakhir.
"Itu adalah hal yang harus dilihat dalam beberapa tahun ke depan,"
ujar Carragher kepada liverpoolfc.tv.
"Saya akan mengambil kursus kepelatihan dan jika kesempatan itu
datang maka saya akan sangat senang, tetapi saya tidak ingin
merugikan orang lain."
"Saya telah bermain untuk Liverpool selama hidup saya dan akan
menjadi sebuah mimpi saya tetap melakukannya setelah saya
pensiun bermain. Jika saya dapat belajar seperti Kenny Dalglish
dan pengalamannya, semua akan menjadi lebih baik."
"Sekali berhenti bermain, Anda mulai dari awal lagi jadi tidak ada
tempat terbaik untuk belajar dan tidak ada orang yang paling baik
untuk saya pelajari, daripada di sini," pungkas Carragher.
Langganan:
Postingan (Atom)