Sebagai
pemain kelahiran Jamaika pertama yang mengenakan seragam Liverpool,
John Barnes membuka jalan bagi tiga bintang di tim utama sekarang untuk
mengikuti jejaknya yang legendaris.
Barnes menikmati karir yang mengesankan bersama The Reds dengan
raihan delapan trofi dan mencetak 108 gol dalam 407 penampilannya.
Periode tak terlupakan di Merseyside di mana banyak pemain lain akan iri
dengan kesuksesannya.
Barnes mengungkapkan bahwa kehidupannya di barak tentara di Up-Park
Kingston telah memberinya dasar yang pas untuk tumbuh sebagai pemain
yang dia inginkan.
Mantan pemain tim nasional Inggris ini juga menerangkan bahwa
kepindahannya ke daerah pantai itu sangat kontras dalam hal iklim, meski
itu tak menghentikannya menjadi salah satu pemain sayap terbaik di
Inggris.
Barnes mengatakan pada majalah Liverpool FC: "Jamaikan sangat indah
bagi anak-anak, terutama untuk anak seperti saya yang suka olahraga.
Tempat layaknya sebuah kampung, penuh dengan kolam renang, lapangan
squash dan tenis. Tempat yang damai dan aman."
"Saya sesekali bertemu dengan teman-teman lama atau para tentara dari
Up-Park yang berkata: 'Barnes, saya ingat ketika kamu bertumbuh, kamu
selalu bermain bola'."
Setelah datang di bandara Heathrow yang berhawa lebih dingin di
London, Barnes berkata: "Saya tidak pernah melihat salju sebelumnya.
Jamaika yang tropis seperti berada di planet yang lain."
Barnes mendapat pencapaian yang mengesankan di Inggris sekaligus memberi harapan pada mereka bisa mengikuti jejaknya.
Tiga pemain Liverpool dengan keturunan Jamaika seperti Raheem
Sterling, Daniel Sturridge dan Andre Wisdom memiliki masa depan cerah di
Merseyside.
Seperti halnya Barnes, Sterling memang sempat merasakan masa kanak-kanaknya di Jamaika.
Besar di Maverley, area yang berbeda dengan Kingston, pemain sayap
ini percaya bahwa sepak bola dengan gaya keras yang dia mainkan bersama
rekan-rekannya telah membantunya secara fisik.
"Sepakbola dimainkan di jalanan. Tidak ada pertandingan kompetisi
namun itu membantu saya karena anak-anak lain lebih besar dan saya
belajar dengan cepat bagaimana menggunakan tubuh saya."
Sterling pindah ke London pada usia tujuh tahun dan dengan cepat
membuat kagum ketika dia bergabung dengan akademi QPR. Lalu Liverpool
membawanya ke Anfield pada 2010.
Setelah laju cepat menjadi sosok menonjol di barisan cadangan
Liverpool, pemain berusia 18 tahun ini membuat debut senior saat melawan
Wigan pada 24 Maret 2012 pada usia 17 tahun lebih 107 hari, menegaskan
betapa nyamannya transisi dari Jamaika ke Inggris bagi dia.
Berbeda dengan barnes dan Sterling, Sturridge asli dari Inggris.
lahir di Birmingham setelah orang tuanya pindah dari Jamaika, striker
ini masih menghargai latar belakang keluarganya dan berterimakasih pada
upaya mereka bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
"Saya sangat bangga dengan leluhur saya. Saya mencintai negara saya
namun itu selalu mengingatkan saya betapa beruntungnya saya." kata
Sturridge.
"Anak muda mendengarkan musik atau melihat olahraga seperti sepak
bola, kriket dan atletik, dan mereka juga melihat jalan yang buruk,
jalan di mana mereka mudah sekali mendapatkan masalah. Generasi muda
butuh panutan." lanjut pemain tim nasional Inggris ini.
Seperti halnya Sturridge, Wisdom lahir di Inggris namun memiliki kakek Jamaika.
Datang dari Leeds, pemain berusia 20 tahun ini menampilkan
determinasi yang patut dipuji dan membuat debut tak terlupakan dengan
mencetak gol di Liga Europa saat melawan Young Boys.
Sudahkah Anda memiliki
tiket pertandingan Indonesia XI vs Liverpool FC? Klik di sini untuk
memesan tiket sekarang > > > www.MyTicket.co.id