Liverpool tidak bermain lebih baik dibandingkan Tottenham
Hotspur. Akan tetapi, kemampuan mengapitalisasi momen, plus kecerdikan
Stewart Downing, membuat mereka meraih kemenangan.
Demikian hasil
duel kedua tim di Anfield dalam lanjutan Liga Inggris pekan ke-29,
Minggu (10/3/2012). Kemenangan 3-2 membuat Liverpool naik ke urutan enam
di klasemen sementara, memangkas jaraknya menjadi tujuh pon dari zona
Liga Champions.
Laga ini diwarnai persaingan Luis Suarez dan
Gareth Bale yang performanya sama-sama sedang menanjak. Keduanya pun
digadang-gadang sebagai kandidat pemain terbaik musim ini di Liga
Inggris. Selain itu, pertandingan ini seakan menunjukkan bagaimana
Brendan Rodgers maupun Andre Villas-Boas telah mengubah gaya permainan
Liverpool dan Spurs.
Untuk Liverpool sendiri, baik cara bermain
maupun pemilihan pemain yang dilakukan Rodgers di pertandingan ini ini
seakan menunjukkan suatu perubahan era. Saat Gerard Houllier, Rafa
Benitez, maupun Roy Hodgson melatih, mereka akan lebih memilih struktur
yang kaku untuk menetralisir lawan. Bahkan Kenny Dalglish yang terkenal
dengan sepak bola menyerang bergaya pass and move pun mengubah filosofi
bermainnya jadi lebih pragmatis saat tidak mendapatkan hasil yang
diinginkan.
Rodgers tidak begitu. Semenjak menukangi Liverpool
hingga saat ini, walau tersingkir dari semua ajang, ia tetap setia
dengan filosofi bermain menyerangnya. Pun saat bertemu dengan Spurs
malam tadi, yang notabene memiliki kinerja lebih baik di musim ini.
Patut
diingat bahwa Liverpool tersingkir dari Piala FA di tangan Oldham saat
menerapkan strategi ultra menyerang 4-2-4. Bahwa ia tidak takut untuk
menggunakan cara yang sama lagi, bahkan saat menghadapi Spurs,
menujukkan jika Rodgers tidak takut untuk menancapkan pengaruhnya di
klub asal Merseyside tersebut.
4-4-1-1 (4-2-4) vs 4-4-1-1Cederanya
Aaron Lennon memaksa Villas-Boas mengganti susunan pemain dari tim yang
telah mengalahkan Inter di pertengahan pekan ini. Dembele yang biasa
bermain di tengah dipasang di posisi Lennon, sementara Scott Parker
berduet dengan Jake Livermore di lini tengah. Bale kembali berperan
sebagai
playmaker di belakang Defoe, sementara Siggurdson mengisi pos sayap kanan.
Dengan
memasang Dembele yang memiliki kemampuan bertahan yang baik, dengan
Kyle Warker, Spurs cukup efektif meredam kombinasi Coutinho-Suarez.
Total 10 tekel dilakukan Dembele-Warker, jauh lebih signifikan dibanding
dengan Assou-Ekotto-Sigurdsson (total 4 tekel) yang bermain di sayap
kanan.
Absennya Lennon tidak serta merta mengubah permainan Spurs yang sering menyerang melalui umpan-umpang silang. Total 19
crossing
dilakukan oleh Walker, Bale, dan Parker di sisi kanan lapangan dan
Assou-Ekoto dan Sigurdsson di sisi kiri. Bahkan, salah satunya berbuah
gol pertama Spurs.
Di kubu Liverpool, Rodgers efektif hanya
menggunakan Lucas Leiva dan Steven Gerrard untuk berduel dengan lini
tengah Spurs. Saat menyerang, acap kali Downing, Sturridge, Suarez, dan
Coutinho berada dalam satu garis sehingga tinggal menyisakan
Lucas-Gerrard untuk menahan serangan balik Spurs.
Keunggulan
formasi menyerang Liverpool ini terletak pada fasihnya keempat pemain
tersebut untuk berpindah posisi. Saat Downing bergerak menusuk ke dalam,
maka Sturridge bisa menggantikan perannya di sayap kanan. Demikian pula
dengan Coutinho yang sering berpindah ke tengah saat Suarez melebar ke
sisi kiri lapangan.
Struktur vs FluidityWalau
sama-sama menggunakan formasi 4-4-1-1, Liverpool dan Spurs memainkannya
dengan cara yang berbeda. Villas-Boas lebih menginstruksikan pemainnya
untuk menjaga struktur dan bentuk formasi untuk bergerak secara
serempak. Sementara Rodgers memainkan sepakbola yang lebih cair, yaitu
pemain yang bergerak bertukar posisi dan mencari ruang kosong.
Namun,
karena Rodgers lebih menitikberatkan penyerangan, dan meminta empat
pemain depannya untuk terus berada di lini pertahanan area lawan, area
tengah pun dikuasai oleh Spurs. Baik Lucas maupun Gerrard juga sering
terisolir sehingga sulit untuk mengalirkan bola lewat tengah lapangan.
Dengan
memainkan Dembele (bukan pemain sayap murni) serta Bale, Spurs juga
memiliki keunggulan dalam jumlah orang yang bermain di poros tengah.
Karena kalah jumlah pemain di tengah inilah para pemain Liverpool
kesulitan untuk mencari ruang kosong untuk menerima umpan. Total hanya
188 kali
passing terjadi antarpemain Liverpool, sementara Spurs melakukan 254
passing. Dengan
gaya seperti ini Spurs juga berhasil memaksa Liverpool untuk bermain di
area pertahanannya sendiri. Hal ini ditunjukkan dalam grafik area aksi
pertandingan semalam di bawah ini.
Babak Pertama Walau
kalah dengan jumlah pemain di tengah, Liverpool bisa mendominasi di 30
menit awal. Dengan intensitas pressing yang tinggi,
passing-passing
yang cepat (minim drible), serta mengalirkan bola lewat sisi lateral
lapangan hingga ke sepertiga lapangan akhir, Liverpool mampu menciptakan
berbagai peluang.
Salah satunya berbuah gol Suarez yang berasal
dari pergerakan Coutinho dan Jose Enrique yang menyisir sisi kiri
lapangan. Umpan terobosan Enrique pada Suarez mampu diselesaikan oleh
striker asal Uruguay tersebut dengan sekali sentuhan.
Namun untuk
bermain dengan gaya seperti itu memerlukan energi tinggi yang tidak
mungkin dipertahankan secara konsisten selama 90 menit. Karena itu,
semenjak menit-30-an, secara perlahan Spurs mampu menguasai bola dan
permainan dengan cara mengisi ruang kosong sehingga ritme passing
Liverpool terganggu.
Spurs pun lalu mampu menyamakan kedudukan
melalui Jan Vertonghen yang berasal dari umpan Bale dari sisi kanan
lapangan. Proses gol ini mirip saat Spurs mengalahkan Inter 3-0, yaitu
melalui umpan silang yang diletakkan di antara pemain belakang, kemudian
disambar oleh pemain yang berlari dari arah pemain belakang.
Babak KeduaDi
15 menit awal babak kedua, kondisi permainan belum berubah untuk
Liverpool. Mereka masih kesulitan untuk merangkai passing sehingga acap
kali bola direbut oleh pemain tengah Spurs. Vertonghen pun kembali
menjebol gawang yang dijaga Brad Jones untuk kedua kalinya setelah ia
berhasil mengkonversi tendangan bebas Spurs jadi gol.
Masuknya
Joe Allen di menit 59 sedikit mengubah permainan Liverpool. Ia
ditempatkan di sepertiga lapangan terakhir sehingga Gerrard dan Lucas
bisa berkonsentrasi untuk menjaga lapangan tengah dan berduel dengan
Parker dan Livermore. Tugas untuk mengalirkan bola ke areal pertahanan
Spurs pun kemudian diambil oleh Allen.
Namun sebenarnya perubahan
skema formasi ini tidak membuat permainan berubah secara total. Bola
masih lebih sering berada di poros tengah lapangan dan kedua tim pun
jarang melakukan percobaan ke arah gawang. Tercatat dari menit ke-59
(Allen masuk) hingga menit ke-66 (gol kedua Liverpool), hanya satu
attempts yang tercipta, yaitu saat Dembele menendang dari luar kotak penalti di menit ke-60.
Bahwa
Liverpool berhasil mencetak dua gol, untuk kemudian memenangi
pertandingan, adalah keberhasilan mereka mengkapitalisasi momen yang
menguntungkan untuk mereka. Pertama adalah saat
backpass Walter membuat Hugo Lloris tertarik ke luar areanya sehingga Downing bisa merebut bola dan mencetak gol. Yang kedua saat
backpass Defoe dapat direbut oleh Suarez sehingga Assou-Ekotto terpaksa melakukan kesalahan berujung penalti untuk mencegahnya.
Man of The Match: Stewart Downing
Sampai
terciptanya gol penyama kedudukan oleh Downing, sebenarnya Liverpool
tak mampu menguasai pertandingan dan tidak terlihat mampu mencetak gol.
Pujian bisa diberikan pada pemain bernomor punggung 19 ini atas
ketenangannya mencetak gol kedua. Berkat golnya lah Liverpool mampu
kembali pada permainan dan mengimbangi Spurs.
Selain karena golnya, Downing juga berperan besar dalam serangan-serangan Liverpool. Total 3
key-passes
ia hasilkan dalam pertandingan ini, termasuk diantaranya satu umpang
silang yang nyaris jadi gol lewat sundulan Daniel Sturridge. Demikian
pula dalam bertahan. Ia melakukan 3 kali tekel, 3 intersepsi, dan 1 kali
clearance untuk menghentikan kombinasi Sigurdsson dan Assou-Ekotto di sayap kanan lapangan.
==
* Penulis: Vetricia Wizach. Akun twitter: @vetriciawizach @panditfootball
(roz/a2s)